Namun, kemampuan beradaptasi tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi. Mahasiswa juga perlu memiliki integritas agar teknologi yang digunakan dapat memberikan manfaat dan tidak disalahgunakan.
“Artinya adaptasi itu bisa menggunakan, bisa memanfaatkan, tetapi tetap harus punya nilai integritas supaya pemanfaatannya masih dalam kebutuhan yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan,” ucapnya.
Dengan kata lain, perubahan teknologi tidak mengubah substansi dari nilai AIR. Yang mengalami perkembangan adalah konteks penerapannya.
Baca Juga:Bukan Sekadar Magang, Virtuship Telkomsel Buka Kesempatan Mahasiswa Rasakan Pengalaman Kerja NyataKisah Auliana Mulia Hernawan, Mahasiswa Telkom University yang Rutin Turun ke Sungai Tangani Banjir
Pipit mengatakan, nilai adaptif, integritas, dan resiliensi akan selalu memiliki tempat dalam kehidupan mahasiswa. Hanya saja, definisi dan bentuk penerapannya dapat semakin luas seiring perubahan tantangan yang dihadapi generasi muda.
“Jadi pada dasarnya nilai AIR ini tetap relevan. Konteksnya masih tetap sama walaupun ada perubahan zaman. Namun, kita secara pendefinisiannya bisa lebih luas,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena mahasiswa saat ini hidup dalam lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran AI, misalnya, memberikan banyak kemudahan dalam proses belajar dan bekerja, tetapi pada saat bersamaan juga menuntut kemampuan untuk memilah, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan teknologi tersebut secara bijak.
ITB Siapkan Instrumen untuk Mengukur Perkembangan Karakter
Tak hanya menjalankan program pengembangan karakter, ITB juga tengah mengembangkan instrumen khusus untuk mengetahui sejauh mana program tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap perkembangan karakter mahasiswa.
Selama ini, jumlah peserta atau tingkat keterlibatan mahasiswa dalam sebuah kegiatan dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan sebuah program. Namun, menurut Pipit, indikator tersebut belum cukup untuk menggambarkan perubahan karakter yang terjadi pada diri mahasiswa.
“Kalau kita membuat acara besar seperti ini, salah satu parameter keberhasilan mungkin berapa banyak mahasiswa yang terlibat. Tapi dari sisi nilai karakternya, apa benar dia sudah adaptif atau belum, itu kita belum tahu,” imbuhnya.
Atas dasar itu, ITB menggandeng para psikolog untuk mengembangkan alat ukur karakter mahasiswa. Instrumen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih objektif dan terukur mengenai perkembangan karakter mahasiswa setelah mengikuti berbagai program pengembangan karakter.
