Kondisi keluarga juga dipengaruhi situasi kesehatan kepala keluarga. Ayat diketahui telah mengalami stroke ringan selama tujuh bulan terakhir yang membuat mobilitasnya terbatas.
Sebelum sakit, ia bekerja sebagai pedagang bakso ikan, sedangkan istrinya mengelola warung kecil di rumah. Sementara itu, menantunya, Yadi Mulyadi, menghidupi keluarga melalui usaha penjualan gas dan menjadi pengepul barang bekas.
Sejak kebakaran terjadi, keluarga korban sementara mengungsi di rumah anak Ayat yang lain. Namun, tempat tinggal tersebut dinilai belum mampu menampung seluruh anggota keluarga secara memadai.
Baca Juga:Baru Bertugas di Tasikmalaya, Kapolres Ade Papa Rihi Awali Tugas dengan Safari ke Kiai PesantrenBandung Family Connect 2026 Tekankan Peran Orang Tua Cetak Generasi Berkarakter dan Siap Hadapi Masa Depan
Meski kehilangan rumah dan sebagian besar harta benda, hasil asesmen menunjukkan kondisi psikologis keluarga relatif stabil. Dukungan warga sekitar yang terlibat sejak proses evakuasi hingga pemadaman kebakaran dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kondisi mental keluarga.
Selama ini keluarga Ayat juga tercatat sebagai penerima sejumlah program bantuan pemerintah, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Sebagai tindak lanjut, Sentra Abiyoso menyalurkan bantuan logistik berupa sembako, pakaian, perlengkapan rumah tangga, tempat tidur, perlengkapan memasak, hingga popok dewasa. Selain itu, lembaga tersebut juga menyiapkan alat bantu mobilitas bagi Ayat, baik berupa kursi roda maupun alat bantu jalan yang akan disesuaikan dengan hasil asesmen.
Tak hanya bantuan kebutuhan dasar, Sentra Abiyoso juga menyiapkan layanan residensial berupa hunian sementara dengan pemenuhan kebutuhan makan tiga kali sehari beserta makanan selingan.
Di sisi lain, program pemberdayaan ekonomi turut disiapkan agar keluarga dapat kembali mandiri. Anis direncanakan ditempatkan sebagai pengasuh di Taman Anak Sejahtera, sedangkan suaminya akan diberdayakan sebagai pengelola kebun.
Pendampingan tersebut akan terus dilakukan melalui proses monitoring dan evaluasi hingga keluarga korban benar-benar pulih dan kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
“Pendampingan akan terus kami lakukan sampai kondisi keluarga pulih dan mereka kembali memiliki hunian yang layak,” ujar Anisa.
Baca Juga:Tiramisusu GO! Buka Gerai 24 Jam di Rest Area KM 97B, Mudahkan Wisatawan Berburu Oleh-olehUsai Tinggalkan Rumah, Ghilmi Akhirnya Pulang dan Ungkap Alasan Sebenarnya
Sementara itu, Anis Saroh berharap rumah keluarganya dapat segera diperbaiki agar seluruh anggota keluarga bisa kembali tinggal bersama.
