Jabar Ekspres – Hasil pemeriksaan kesehatan massal terhadap ribuan warga di kawasan industri kapur Kecamatan Cipatat dan Padalarang mulai menggambarkan dampak dugaan pencemaran debu.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menemukan ratusan warga mengalami gangguan saluran pernapasan hingga masuk kategori suspek tuberkulosis (TB).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB, Lia Nurliani Sukandar, menyebut, temuan tersebut diperoleh dari skrining kesehatan yang dilakukan terhadap masyarakat di wilayah terdampak aktivitas industri kapur.
Baca Juga:Tiramisusu GO! Buka Gerai 24 Jam di Rest Area KM 97B, Mudahkan Wisatawan Berburu Oleh-olehUsai Tinggalkan Rumah, Ghilmi Akhirnya Pulang dan Ungkap Alasan Sebenarnya
“Kegiatan ini melibatkan Dinkes Provinsi Jawa Barat, Dinkes KBB, empat puskesmas, serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan secara terpadu sebagai upaya mendeteksi lebih dini dampak kesehatan yang dialami masyarakat di wilayah sekitar industri kapur,” ujar Lia, Senin (3/8/2026).
Pemeriksaan kesehatan melibatkan Puskesmas Sumurbandung, Jayamekar, Tagogapu, dan Cipatat. Hingga 31 Juli 2026 tercatat sebanyak 2.974 kunjungan atau kontak pelayanan kesehatan.
Dari jumlah itu, kata Lia, 2.870 orang atau 96,5 persen mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sedangkan 1.772 warga menjalani pemeriksaan rontgen dada untuk mendeteksi gangguan pada organ paru-paru.
“Hasil skrining menunjukkan 378 orang atau 13,2 persen masuk kategori suspek tuberkulosis (TB). Sebanyak 304 orang atau 80,4 persen di antaranya telah menjalani pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk memastikan diagnosis,” katanya.
Selain dugaan TB, Dinkes juga menemukan 267 warga atau 9,3 persen mengalami gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atau batuk. Sebanyak 25 orang atau 0,9 persen lainnya terindikasi sebagai suspek Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
“Skrining juga mengungkap 819 orang atau 28,5 persen memiliki hasil pemeriksaan yang mengarah pada hipertensi, sementara 117 orang atau 4,1 persen menunjukkan indikasi diabetes melitus. Di sisi lain, sebanyak 549 peserta atau 19,1 persen diketahui merupakan perokok yang berisiko memperburuk gangguan kesehatan paru,” jelasnya.
Menurut Lia, seluruh temuan tersebut masih bersifat skrining awal sehingga belum dapat dijadikan diagnosis pasti. Warga yang hasil pemeriksaannya tidak normal akan menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai indikasi medis.
Baca Juga:de Braga by ARTOTEL Hadirkan Pengalaman Menginap Berbeda di Jantung Kawasan Braga BandungKapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi Disambut Tradisi Pedang Pora dan Adat Sunda
Selain memeriksa kondisi kesehatan warga, Dinkes turut melakukan pengukuran kualitas udara di permukiman terdampak. Pengambilan sampel dilakukan di 15 rumah di RW 22, wilayah kerja Puskesmas Cipatat.
