Bikin Satu Gedung Bergemuruh, Sanggar Tari Mutiara Cimahi Boyong Dua Gelar Bergengsi di Sayembara Ceta II

Bikin Satu Gedung Bergemuruh, Sanggar Tari Mutiara Cimahi Boyong Dua Gelar Bergengsi di Sayembara Ceta II
Bikin Satu Gedung Bergemuruh, Sanggar Tari Mutiara Cimahi Boyong Dua Gelar Bergengsi di Sayembara Ceta II
0 Komentar

Ia menilai setiap peserta memiliki kualitas penampilan yang sama-sama menarik, sehingga kemenangan yang diraih Sanggar Tari Mutiara bukan alasan untuk merasa paling unggul.

“Sebenarnya aku enggak bisa menilai dari sisi aku sebagai koreografer. Tapi kalau ditanya apa yang membedakan penampilan kami, mungkin ada di koreografinya, konsep yang kami usung, kemasan tariannya, mulai dari kostum, make up, properti yang digunakan, sampai beberapa aksi dalam koreografi. Mungkin itu yang menjadi pembeda,” kata Syntya.

Namun, keberhasilan tersebut tidak diraih dengan mudah. Di balik penampilan yang memukau, tersimpan proses persiapan yang penuh tantangan. Bahkan, di awal persiapan, Sanggar Tari Mutiara sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri karena padatnya jadwal para penari.

Baca Juga:Dipicu Api dari Tungku Tradisional, Kebakaran Hanguskan Rumah Warga di CineamDipicu Api dari Tungku Tradisional, Kebakaran Hanguskan Rumah Warga di Cineam

Pada bulan Juli, para anggota harus membagi waktu antara latihan kompetisi dengan berbagai agenda pertunjukan di luar kota.

Syntya mengaku sempat khawatir melihat kondisi para penari yang hampir tidak memiliki waktu istirahat. Namun, ia memilih terus memberikan semangat agar seluruh tim tetap bertahan hingga kompetisi selesai.

Di balik penampilan yang sukses memukau penonton, ada jadwal padat yang nyaris membuat tim Sanggar Tari Mutiara Cimahi menyerah. Sepanjang bulan itu, mereka harus berpindah dari satu panggung ke panggung lain, sebagian besar berada di luar kota. Waktu latihan pun harus diselipkan di tengah kesibukan tampil di berbagai acara.

Namun, situasi tersebut justru menjadi ujian kekompakan bagi seluruh tim. Syntya terus menyuntikkan semangat kepada para penarinya agar tidak berhenti di tengah jalan. Baginya, setelah memutuskan ikut berkompetisi, satu-satunya pilihan adalah menuntaskan perjuangan hingga akhir.

“Sebetulnya di awal kita sempat mau menyerah, mau mengundurkan diri karena melihat jadwal anak-anaknya itu bener-bener padat,” kata Syntya.

Menurutnya, selama Juli, tim hanya memiliki kesempatan latihan maksimal delapan kali dengan jadwal yang sangat padat.

“Ya untuk latihan kita maksimal di delapan kali, di bulan ini, di bulan Juli full kita latihan. Kayak gitu sih, jadi tantangan yang paling berat yaitu tadi kita memanage waktu untuk latihannya itu bener-bener padat banget,” ungkapnya.

0 Komentar