Pengendara juga kerap tidak sabar menunggu giliran melintas, padahal akses tersebut hanya dapat dilalui satu sepeda motor secara bergantian dari dua arah. Akibatnya, tidak jarang ada pengendara yang memaksakan diri hingga berhenti di dekat rel, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan.
“Saya setuju ditutup saja. Kadang ada pengendara yang keras kepala, tidak mau menunggu, akhirnya berhenti di dekat rel. Itu sangat berbahaya. Kalau harus memutar juga tidak masalah, saya sendiri memang biasa lewat jalan belakang, yang penting aman,” ucap Iman.
Sementara itu, warga bernama Tina (27) mengaku penutupan jalur membuat perjalanannya menjadi lebih jauh dan lebih lama karena tidak lagi bisa menggunakan jalan pintas menuju kawasan Cimanggu, Tanah Sareal.
Baca Juga:KMRT Tuding Pemkab Tasikmalaya Abaikan Putusan KI Jabar, Ancam Gugat ke PTUNHUT Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Pacu Akselerasi Pelayanan Lewat Optimalisasi Call Center 110
Namun, ia tetap memahami alasan pemerintah menutup jalur tersebut demi keamanan masyarakat dan mendukung adanya penutupan itu.
“Memang jadi lebih jauh karena harus memutar dan jadi lebih lama juga pasti. Tapi ada baiknya juga ditutup. Soalnya sudah banyak kejadian, jalurnya juga terlalu mepet dengan rel, kalau kereta lewat nih anginnya kerasa banget, jadi memang ngeri sebenernya kalau lewat situ,” kata Tina.
