Lima Bulan Pascalongsor Pasirlangu, Penyintas Masih Menanti Kepastian Relokasi

Kondisi tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Foto: Dimas Rachmatsya
Kondisi tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Lima bulan setelah bencana longsor menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sejumlah penyintas masih bertahan di rumah kontrakan sambil menunggu kepastian relokasi dari pemerintah.

Puluhan rumah yang berada di kawasan terdampak longsor sebelumnya rusak dan tertimbun material tanah. Sejak saat itu, warga yang selamat harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan memulai kehidupan baru dengan berbagai keterbatasan.

Salah seorang penyintas, Sinta Lupianti (32), mengatakan hingga kini dirinya bersama keluarga masih tinggal di rumah kontrakan yang lokasinya tidak jauh dari kampung asalnya.

Baca Juga:Kekeringan Kembali Terjang Nanggung Bogor, 512 Warga Terdampak Krisis Air BersihPolres Tasikmalaya Turun Tangan Percantik Alun-Alun Singaparna, Gaungkan Semangat Indonesia Asri

“Kami bersyukur masih mendapat bantuan untuk biaya kontrakan dan kebutuhan sehari-hari. Tapi tentu harapannya bisa segera punya tempat tinggal tetap lagi supaya kehidupan keluarga bisa mulai ditata kembali,” kata Sinta saat ditemui, Rabu (24/6/2026).

Menurut Sinta, hingga saat ini warga belum memperoleh kepastian mengenai lokasi relokasi yang akan disiapkan bagi para korban longsor. Meski demikian, ia berharap hunian yang nantinya diberikan berada di kawasan yang aman dari ancaman bencana.

Trauma akibat longsor yang terjadi pada awal tahun masih membekas dalam ingatannya. Ia mengaku sulit melupakan detik-detik ketika material tanah bercampur air meluncur dari lereng gunung dan menghantam permukiman warga.

“Saat kejadian, saya dan keluarga masih bangun jadi sempat menyelamatkan diri setelah mendengar suara gemuruh dan teriakan warga yang panik,” katanya.

Namun, lanjut Sinta rumah yang selama ini ditempatinya tidak dapat diselamatkan. Bangunan beserta perabotan dan harta benda yang ada di dalamnya hilang tertimbun longsoran.

Selain kehilangan tempat tinggal, keluarganya juga kehilangan lahan kebun seluas sekitar 25 tumbak yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian utama suaminya. Kebun tersebut ikut rusak dan tertimbun material longsor.

Kondisi itu memaksa mereka mencari berbagai pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tinggal di rumah kontrakan.

Baca Juga:Mahasiswa Ditemukan Tewas di Semak-semak Ciseeng, Polisi Masih Selidiki Penyebab KematianTasikmalaya Jadi Tuan Rumah Jambore Nasional Overlanding 2026, Usung Misi Sosial dan Lingkungan

Meski dihadapkan pada berbagai kesulitan, Sinta berusaha bangkit dan menata kembali kehidupan keluarganya. Bersama suaminya, ia mulai membersihkan lahan yang masih memungkinkan untuk digarap kembali.

0 Komentar