Dana Transfer Cimahi Turun Rp238 Miliar, Pengamat Unjani Sebut Ini Alarm Kemandirian Daerah

Dana Transfer Cimahi Turun Rp238 Miliar, Pengamat Unjani Sebut Ini Alarm Kemandirian Daerah
Pengamat Politik Unjani Cimahi, Arlan Siddha (Doc. Universitas Jenderal Achmad Yani)
0 Komentar

Arlan melanjutkan, kondisi itu seharusnya dibaca sebagai sinyal peringatan bagi pemerintah kabupaten dan kota, terutama Cimahi yang memiliki sumber daya terbatas.

Menurut dia, pemerintah pusat juga tidak bisa memaksakan berbagai kebijakan tanpa mempertimbangkan perubahan situasi yang terus terjadi.

“Nah kalau menurut saya adalah ini sebenarnya tantangan besar buat seluruh kabupaten kota yang memiliki sumber daya yang kecil termasuk di Cimahi, dan tentunya ini harus benar-benar bisa terjawab,” tuturnya.

Baca Juga:Bocah Main Lilin Saat Mati Lampu, 3 Rumah dan 1 Motor Ludes Terbakar di Bojonggede BogorRSUD KHZ Musthafa Ukir Sejarah, Layanan Trombolisis Pertama di Priangan Timur Selamatkan Pasien Stroke Akut

Lebih lanjut, Arlan menuturkan tekanan fiskal yang kini dialami Cimahi lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal.

Meski begitu, ia menilai Cimahi masih memiliki potensi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), asalkan pemerintah daerah berani memperkuat inovasi.

“Saya juga menampik bahwa setiap apa di Cimahi terutama ada keterbatasan inovasi tidak, karena setiap daerah saya pikir memiliki keunggulannya sendiri. Dan inovasi itu tidak tidak terbatas gitu, inovasi itu bisa diciptakan dan kemudian inovasi itu bisa apa menggandeng banyak stakeholder untuk kemudian membuat sesuatu yang akhirnya bisa jadi PAD,” kata Arlan.

Ia menilai, tantangan fiskal semacam ini semestinya tidak hanya dibaca sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang untuk mempercepat kemandirian daerah. Selama ini, menurut dia, ketergantungan terhadap pusat membuat daerah kerap rentan ketika transfer anggaran berubah.

Jadi, lanjut dia, hal-hal seperti ini akhirnya kalaupun kita terus beranggapan bahwa ke depan, terutama misalnya pusat, hubungan fiskal pusat dan daerah ini kan saya di awal saya katakan bahwa unpredictable, jadi tidak tidak bisa diprediks.

“Mungkin saja berikutnya akan ada penurunan atau berikutnya akan ada pemotongan, bahkan tidak ada. Kalau tidak ada sih tidak mungkin ya. Tapi, inilah yang kemudian harus kita baca sebagai tantangan, sebagai peluang untuk bagaimana kemudian Cimahi bisa keluar dari krisis atau ketergantungan pusat, dan saya yakin Cimahi bisa dan untuk keluar dari itu,” pungkas Arlan. (Mong)

0 Komentar