Yoseph memperkirakan sekitar 80 persen pengunjung yang membeli barang koleksi merupakan anak muda, sementara sisanya berasal dari kalangan yang lebih tua.
“Kalau dulu mungkin orang mencari barang antik karena nilai sejarahnya. Sekarang anak-anak muda lebih banyak yang tertarik. Mereka penasaran, ingin tahu fungsi dan cerita di balik barang-barang tersebut,” ujarnya.
Sejumlah produk yang paling diminati generasi muda antara lain kamera analog, kaset pita, jam tangan vintage, mainan lawas, hingga berbagai barang koleksi yang kerap dijadikan dekorasi rumah, kamar maupun kafe.
Baca Juga:ART di Cileungsi Tewas Diduga Disiksa Rekan Kerja, Tubuh Korban Disiram Air Panas BergantianJalan Kasep Digeber, Pemkab Tasikmalaya Targetkan Dua Tahun Lagi Seluruh Jalan Mulus
“Yang paling dicari sekarang biasanya kamera, kaset, toys, jam tangan dan barang-barang unik lainnya,” kata Yoseph.
Soal harga, pengunjung bisa menemukan berbagai pilihan sesuai kantong. Barang yang dijual dibanderol mulai dari Rp10 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kelangkaan dan kondisi barang.
Ke depan, pihak penyelenggara berharap Bandung Vintage Market dapat terus berkembang dengan skala yang lebih besar serta melibatkan lebih banyak komunitas dan pelaku usaha vintage dari berbagai daerah di Indonesia.
“Harapannya acara seperti ini bisa terus diadakan setiap tahun dengan skala yang lebih besar. Kami ingin mengundang lebih banyak peserta dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Solo dan kota-kota lainnya untuk mengedukasi masyarakat tentang barang-barang vintage,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Bandung Vintage Market ingin menunjukkan bahwa budaya koleksi barang lawas masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah melalui benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masa lalu.
