“Di final itu situasinya beda, penonton beda. Kita harus tetap hati-hati. Tapi saya selalu bilang ke anak-anak, setiap pertandingan adalah final. Karena kalau kita kalah, kita enggak bisa ke nasional,” tegas sang pelatih.
Uniknya, meski tantangan di babak Nasional dipastikan jauh lebih berat karena akan bertemu raksasa basket kampus seperti UPH, Binus, hingga Ubaya, Coach Arif menegaskan tidak akan menambah pemain baru ke dalam skuadnya yang total hanya berisi 9 orang (5 aktif, 4 non-aktif).
“Enggak ada, kita tetap cuma sembilan orang. Saya bilang ke anak-anak, kalau kalian siap di nasional, that’s it! Filosofi saya cuma: Just believe in coach, believe in system, and believe each other. Menang kalah itu nanti, yang penting kita fokus besok di final dan nikmati proses ke nasional,” tutup Coach Arif optimistis.
Baca Juga:Menuju Smart Military University, Unjani Rayakan Dies Natalis ke-36 dan Gandeng Pemkab Tanah LautBawa Konsep 'Akupuntur Policy' ke KSP, Wawali Cimahi Adhitia Yudisthira Dorong Terobosan Pembangunan Nasional
Dipimpin Penggawa Timnas, Rasa Lelah Justru Sirna
Bermain tanpa rotasi pemain tentu menjadi momok menakutkan bagi atlet mana pun. Namun, hal itu tidak berlaku bagi bintang lapangan Maranatha, Berlian Yesi Triutari.
Pemain Timnas 3×3 Basketball yang baru saja berlaga di Asian Beach Games 2026 di Sanya, Tiongkok, April lalu ini mengakui bahwa timnya memang punya modal “nekat”.
“Nekat itu juga iya, cuma kita percaya diri aja. Kita cari pengalaman baru dan saling kompak. Satu sama lain saling menguatkan, enggak ada yang saling menyalahkan,” ujar Yesi sambil tersenyum.
Hebatnya, Yesi mengaku rasa lelah seolah menguap begitu saja karena atmosfer positif yang mereka bangun di lapangan.
“Awal sampai akhir tuh kayak enggak capek sih. Aku enjoy, semua enjoy. Sebelum buzzer quarter akhir berbunyi kita harus terus berjuang, jangan pernah merasa capek. Kuncinya kita harus kompak saling menyemangati dan menjaga komunikasi baik di dalam maupun luar lapangan,” pungkasnya.
Tim Putra: ITHB Mengamuk, Hancurkan Widyatama
Sementara itu dari sektor putra, kedigdayaan Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) masih belum terbendung. Universitas Widyatama harus mengakui keperkasaan ITHB setelah digulung dengan skor mencolok 45-73.
