Rekrutmen Relawan MBG di Banjarsari Ciamis Berujung Penganiayaan, 1 Warga Luka Disabet Golok

Rekrutmen Relawan MBG di Banjarsari Ciamis Berujung Penganiayaan, 1 Warga Luka Disabet Golok
Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Carsono saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026). (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sebuah insiden penganiayaan berdarah terjadi di Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, menyusul polemik rekrutmen relawan Makan Bergizi Gratis (MBG). Seorang pemuda berinisial DM menjadi korban sabetan golok di tangan kirinya setelah terlibat cekcok dengan pelaku berinisial UM (25) pada Kamis (30/4/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.

Pelaku yang diketahui merupakan anak dari salah satu perangkat desa setempat itu diamankan Tim Reskrim Polsek Banjarsari, Polres Ciamis kurang lebih enam jam setelah kejadian. Polisi juga menyita barang bukti berupa satu bilah golok yang digunakan pelaku, pakaian pelaku saat kejadian, serta pakaian korban yang masih berlumuran darah.

Kapolres Ciamis, AKBP Hidayatullah, melalui Kasat Reskrim Polres Ciamis, AKP Carsono, menjelaskan bahwa motif penganiayaan dipicu oleh ketersinggungan pelaku terhadap status WhatsApp yang diunggah korban. Status tersebut terkait dengan proses rekrutmen relawan MBG di dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Yayasan Ar-Rasyid Nur Falah Bagjasari, Desa Purwasari.

Baca Juga:Ahmad Luthfi Dampingi Prabowo Kunjungi Sekolah di Cilacap, Para Siswa Respons Positif Program MBG Fakta Terbaru Balita di Cianjur yang Meninggal Dunia Diduga Setelah Konsumsi MBG

“Pelaku merasa tidak terima dengan status WA yang dibuat terkait relawan MBG, hingga akhirnya terjadi cekcok yang berujung pada aksi penganiayaan menggunakan senjata tajam,” ujar AKP Carsono kepada wartawan, Senin (4/5/2026).

Akibat serangan tersebut, korban DM mengalami luka robek pada tiga jari tangan kirinya, yakni telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Korban langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.

Sebelum insiden penganiayaan terjadi, puluhan warga Desa Purwasari sempat mendatangi kantor dapur SPPG pada Kamis (29/4/2026) untuk memprotes mekanisme perekrutan karyawan yang dinilai tidak memprioritaskan warga lokal.

Warga menengarai kuota pekerja justru didominasi oleh orang dari luar Desa Purwasari. Salah seorang warga, Ismanto, mengungkapkan kekecewaannya karena banyak pelamar asli desa setempat tidak lolos seleksi.

Menanggapi protes tersebut, Aslap SPPG Purwasari, Karin Kilten, membenarkan adanya pekerja dari luar desa namun masih dalam satu kecamatan. Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan Badan Gizi Nasional, kebutuhan relawan untuk satu titik dapur hanya sekitar 40 orang, sementara jumlah pelamar dari warga sekitar mencapai 125 orang sehingga tidak memungkinkan untuk menerima semuanya.

0 Komentar