Pihaknya kini mulai mendorong masyarakat untuk tidak lagi sekadar membuang sampah, melainkan mengolahnya secara mandiri agar tidak terus menumpuk di TPS.
“Kalau kuota tidak bertambah, kita harus bergerak sekarang. Jangan terus berpikir di hilir. Hulunya harus dibereskan,” tegas Ruli.
Inkonsistensi Tata Kelola Sampah Pasar Baleendah
Upaya darurat yang dilakukan saat ini dipandang sebagai langkah jangka pendek yang tidak menjamin lautan sampah tidak akan kembali lagi.
Baca Juga:Harapan Besar Pengusaha Jawa Barat Terhadap Kepemimpinan Baru Kejati JabarRatusan Wargi Bandung Serbu Gelaran Helloversary dan Fun Run 5K
Fokus pengolahan di Pasar Baleendah harus beralih pada penerapan prinsip zero waste secara ketat di lingkungan rumah tangga dan fasilitas publik.
DLH berencana menerbitkan surat edaran kepada seluruh tingkat RW untuk mengelola sampah secara mandiri guna menahan laju pembuangan ke pasar.
“Sampah rumah tangga, terutama food waste, harus selesai dari rumah. Jadi jangan mindset-nya buang sampah terus, tapi mengolah sampah,” tambah Ruli.
Kebijakan ini menuntut ketegasan dari para aparat di tingkat lurah hingga camat dalam melakukan pengawasan rutin di lapangan setiap hari.
Jika pengolahan mandiri tidak berjalan, maka kawasan Pasar Baleendah akan terus menjadi korban dari sistem pembuangan sampah yang serampangan dan tidak beradab.
Kedisiplinan kolektif menjadi harga mati agar pengiriman ke Sarimukti ke depannya benar-benar hanya berisi material residu yang tidak bisa didaur ulang.
“Yang dibuang ke Sarimukti nanti harus residu saja. Kalau pola lama dipertahankan, persoalan seperti ini akan terus berulang,” kata Ruli menutup keterangannya. (agi/yan)
