Kiki dan Kemiskinan Ekstrem, Sosiolog Sebut Perlindungan Sosial Belum Menyentuh Akar

Kiki dan Kemiskinan Ekstrem, Sosiolog Sebut Perlindungan Sosial Belum Menyentuh Akar
Asep Setiawan saat memeluk anaknya Muhammad Rizki, bocah disabilitas yang memakan rumput. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus bocah disabilitas yang memakan rumput di Kabupaten Bandung Barat (KBB) bukan sekadar kisah pilu, melainkan cerminan kegagalan perlindungan sosial di tingkat paling dasar.

Sosiolog Ari Ganjar menilai peristiwa yang dialami Muhammad Rizki (11) atau Kiki, anak penyandang disabilitas asal Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, harus dilihat sebagai persoalan struktural, bukan semata masalah individu.

“Ini bukan sekadar kasus personal. Ada kerentanan ganda kemiskinan dan disabilitas yang bertemu dalam satu situasi, sementara lingkungan sosialnya tidak cukup kuat memberi perlindungan,” ujar Ari, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga:Pemilik Warung di Rongga Bandung Barat Tewas dengan Luka Misterius 5 Kursi Kepala Dinas Kosong, Wabup Kabupaten Bandung Barat Minta BKPSDM Segera Buka Open Bidding

Ia menjelaskan, keluarga miskin kerap menghadapi keterbatasan ekonomi sekaligus minim pengetahuan dalam menangani anak disabilitas, sehingga ruang intervensi menjadi sangat terbatas.

“Kemiskinan membatasi kemampuan keluarga, baik dalam memenuhi kebutuhan gizi maupun dalam memahami penanganan anak disabilitas. Dalam kondisi seperti itu, pilihan mereka sangat terbatas,” katanya.

Menurut Ari, kondisi tersebut dapat memicu munculnya perilaku ekstrem sebagai bentuk adaptasi untuk bertahan hidup.

“Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi dan tidak ada dukungan memadai, perilaku ekstrem bisa muncul sebagai respons bertahan hidup,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa semakin dalam tingkat kemiskinan, semakin kecil kemampuan keluarga dan lingkungan untuk mengantisipasi kondisi tersebut, terutama jika tidak tersentuh bantuan.

“Jika berada dalam kemiskinan parah tanpa jangkauan bantuan, kemampuan lingkungan sosial untuk mencegah situasi seperti ini menjadi sangat lemah,” sebut Ari.

Selain itu, keluarga dengan anak disabilitas di lingkungan miskin cenderung terisolasi dari jejaring sosial yang seharusnya bisa membantu.

Baca Juga:Ironi Ketenagakerjaan di Bandung Barat, Angka Turun tapi Pengangguran BertambahJelang Idul Adha, 61 Petugas Sisir 270 Lapak Hewan Kurban di Bandung Barat

“Mereka bukan hanya kekurangan secara ekonomi, tapi juga sering terisolasi dari dukungan sosial yang diperlukan,” jelasnya.

Ari menegaskan, lemahnya perlindungan sosial di tingkat komunitas menjadi persoalan krusial yang harus segera diperbaiki.

“Perlindungan terhadap penyandang disabilitas masih belum kuat, terutama di komunitas miskin dengan kapasitas kelembagaan yang terbatas,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah hingga elemen masyarakat untuk lebih proaktif menjangkau dan melindungi anak disabilitas dari keluarga kurang mampu.

0 Komentar