“Itulah pengalaman tahun 2025. Kan sekarang 2026 belum. Tahun 2025 sampai ke provinsi itu SMPN 16,” sambung Popon.
Di balik capaian itu, ia juga menyoroti persoalan yang lebih besar, minimnya tenaga pengajar Bahasa Sunda yang sesuai bidang. Di sekolahnya saat ini, ia menjadi satu-satunya guru yang masih bertahan.
Menurutnya, persoalan ini berkaitan erat dengan minimnya pengangkatan tenaga pendidik menjadi pegawai negeri, yang berdampak pada menurunnya minat mahasiswa.
Baca Juga:Usai TKA, Wali Kota Cimahi Ingatkan Sekolah Tak Berlebihan Rayakan KelulusanSosok Kartini di SMPN 16 Cimahi: Perjalanan Popon Saadah yang 30 Tahun Lebih Mengabdi Mengajar Bahasa Sunda
“Itu pengaruhnya besar sekali ke dunia pendidikan. Akhirnya mata pelajaran Bahasa Sunda kekurangan guru, karena yang ada pun tidak diangkat. Nah yang jadi pertanyaan kenapa tidak dijadikan diangkat PNS, itu belum terjawab,” tegasnya.
Perjalanan karier Popon juga diwarnai sejumlah keputusan penting. Pada 2020, ia dipindahkan dari SMPN 4 Cimahi setelah puluhan tahun mengabdi, akibat penyesuaian kebutuhan jam mengajar. Ia sempat mengajar di dua sekolah sebelum akhirnya fokus penuh di SMPN 16 Cimahi sejak 2022.
Keputusan itu diambil bukan tanpa pertimbangan. Meski sempat mengajar di sekolah dengan karakter siswa yang berbeda, ia memilih bertahan di tempat yang lebih membutuhkan.
“Nah, pindah aja, Ibu teh langsung fokus di sini,” katanya.
Dalam proses belajar mengajar, Popon terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia menyadari pengaruh besar media sosial terhadap siswa, sehingga metode pengajaran pun ikut disesuaikan.
“Misalnya bikin poster nih, poster Bahasa Sunda pakai Canva karena mereka pegang handphone kan. Mereka udah hafal aplikasi Canva,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap menilai metode konvensional memiliki nilai tersendiri.
“Kan kalau Canva tinggal jadi aja, tapi itu juga penting untuk menyeimbangkan hobi mereka gitu caranya,” tutupnya.
Bagi Popon, menjaga minat siswa terhadap Bahasa Sunda di tengah derasnya arus budaya digital sudah menjadi pencapaian tersendiri. Ia percaya, dari ruang kelas yang sederhana, potensi besar tetap bisa tumbuh selama ada ketulusan dalam mengajar. (Mong)
