Dari sisi pembiayaan, koperasi dan lembaga keuangan seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berperan langsung dalam memperluas inklusi keuangan. Melalui data-data yang sudah terintegrasi dalam sistem digital, proses pengajuan kredit menjadi lebih sederhana, cepat, dan juga terjamin, sehingga peternak kecil yang sebelumnya sulit mengakses pinjaman kini memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya.
“Kalau mau pinjam kredit, tinggal masukin di handphone, langsung terkoneksi ke BPR, dalam 2-3 hari cair,” ucapnya.
Melalui sistem ERP ini, selain peternak kini memiliki data hasil produksi dan penjualan, peternak juga langsung terhubung dengan layanan pendukung lainnya, mulai dari penyedia pakan dan layanan kesehatan hewan. Pendekatan berbasis ekosistem ini memperkuat posisi peternak dalam rantai nilai, sekaligus meningkatkan daya tawar mereka.
Baca Juga:KDS Tegaskan Program Pentahelix Bisa Mengantisipasi Masalah Kebencanaan Banjir Harga Emas Antam Hari Ini Jumat, 17 April 2026 Turun, Simak Rincian Terbarunya
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi di tingkat hulu. Aun mengungkapkan persoalan klasik seperti keterbatasan lahan pakan hijauan, populasi sapi yang belum optimal, serta kualitas genetik ternak masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
“Pertama soal lahan untuk pakan hijauan, kedua populasi sapi, dan ketiga kualitas genetik ternak,” kata Aun.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan regulasi yang lebih berpihak pada peternak, khususnya dalam pemanfaatan lahan tidur milik negara atau BUMN agar dapat diakses dengan biaya terjangkau.
“Kalau regulasi dari pemerintah banyak memudahkan kami beternak, maka masyarakat akan memanfaatkan peluang ini,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus mendorong penguatan pembiayaan UMKM melalui pengawasan perbankan dan kolaborasi dengan pemerintah daerah berbasis potensi ekonomi lokal.
Sebagai informasi, sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor. Di tengah meningkatnya kebutuhan pemenuhan gizi, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan rantai nilai inklusif di sektor peternakan sapi perah menjadi semakin krusial. Selain meningkatkan produksi dalam negeri, langkah ini juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan pengurangan ketergantungan terhadap impor produk susu.
