Teknologi medis modern juga menjadi penopang utama, termasuk penggunaan endoskopi dan pengembangan tindakan bedah minimal invasif serta diagnostik lanjutan.
“Jadi untuk saat ini kita melengkapi dari layanan diagnostik, baik untuk tadi layanan jantung, ibu dan anak, trauma center, kemudian juga onkologi maupun urologi. Kita siapkan dari diagnostiknya, kita sudah memiliki CT scan 128 slice,” kata Leona.
Ia melanjutkan, Primaya Rajawali Hospital dilengkapi dengan USG, X-ray, dan sebagainya. Pihaknya juga memiliki peralatan seperti laparoskopi untuk bedah minimal invasif yang mendukung layanan-layanan tersebut.
Baca Juga:Berawal dari Nongkrong Pemuda, Polisi Bongkar Peredaran Obat Keras di BogorProyek PJU Rp32,7 Miliar di Narogong Belum Optimal, Masih Jadi PR Pemprov Jabar
“Kita juga memiliki endoskopi, bronkoskopi untuk mendukung layanan-layanan tersebut. Ke depannya kita juga akan memiliki Cath Lab, itu arah pengembangan kita untuk benar-benar bisa mengembangkan layanan jantung pembuluh darah dan neuroscience atau stroke,” jelasnya.
Dalam aspek pelayanan, Primaya Rajawali Hospital mengacu pada standar internasional Joint Commission International (JCI) berbasis di Amerika Serikat. Standar ini diterapkan untuk memastikan kualitas layanan setara dengan rumah sakit bertaraf global.
Digitalisasi juga diperkuat melalui sistem Electronic Medical Record (EMR) yang mencakup seluruh proses layanan, mulai dari pendaftaran hingga pembayaran pasien.
“Kami juga memiliki AI Assistant bernama ‘Sasha’ yang dapat diakses melalui website primayahospital.com di mana masyarakat bisa bertanya mengenai ke mana, dengan gejala-gejala yang dialaminya harus ke dokter mana yang tepat dan dibantu untuk penjadwalan. Jadi termasuk Primaya Rajawali Hospital ini juga dapat pasien-pasien juga dapat menggunakan teknologi-teknologi tersebut,” kata Leona menjelaskan seputar teknologi di Primaya Rajawali Hospital.
Mengusung tema “Commitment to Excellence, Compassion in Care”, rumah sakit ini menekankan keseimbangan antara keunggulan klinis dan pendekatan empati dalam pelayanan berbasis patient-centered care.
Leona menegaskan, transformasi tersebut bukan sekadar perubahan nama, melainkan bagian dari strategi ekspansi layanan kesehatan berkualitas di Jawa Barat.
“Kami tidak hanya mengubah nama, tetapi mengembangkan rumah sakit berbasis layanan unggulan dengan peningkatan menyeluruh pada sistem layanan, teknologi, dan standar klinis, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan,” tegasnya.
