JABAR EKSPRES – Harga plastik terus melonjak seiring ketegangan di Timur Tengah yang kian memanas. Kendati begitu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diklaim lebih memilih menjaga harga jual.
Hal itu disampaikan Menteri UMKM Maman Abdurrahman kepada awak media di Jakarta, Kamis. Meski lonjakan harga plastik menekan biaya produksi, kata dia, pelaku UMKM memilih menahan harga jual dibandingkan menaikkannya.
“UMKM berusaha menjaga harga barang di mata masyarakat dan pembeli. Mereka tidak menaikkan harga jual, tetapi konsekuensinya keuntungan menjadi menipis karena biaya produksi naik,” ujarnya, dikutip Jumat (10/4/2026).
Baca Juga:Pengadaan Motor Listrik untuk Kepala SPPG Bikin Gaduh, Purbaya: Saya Nggak TahuLedakan Gedung Padel di Gunung Putri Rusak Sekolah, KBM SDN Ciangsana 03 Diliburkan Dua Hari
Adapun kenaikan harga plastik yang mencapai 100 persen di sejumlah daerah tersebut, dipicu oleh gangguan distribusi nafta.
Nafta sendiri merupakan turunan minyak bumi. Saat ini, harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan setelah penutupan Selat Hormuz akibat serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran.
Menurut laporan Kementerian UMKM, kenaikan harga plastik mencapai rata-rata 40–60 persen. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan dan omzet UMKM, dengan rata-rata penurunan hingga 50 persen.
Data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia pada 2026 menunjukkan kelangkaan nafta telah menurunkan kapasitas produksi plastik, bahkan menyebabkan sejumlah lini produksi terhenti.
Padahal, mayoritas UMKM makanan dan minuman masih bergantung pada kemasan plastik.
Industri kemasan plastik dalam negeri sendiri mendominasi pasar hingga 67,61 persen pada 2025, dengan sektor makanan sebagai kontributor terbesar.
Maman mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih tinggi, mencapai 55 persen.
Baca Juga:Tak Ada Relaksasi Bea Masuk Bahan Baku Plastik, Purbaya Sebut Ini Alasannya!Harga BBM Subsidi Tak Naik, Fiskal RI Terguncang?
Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen distribusi melewati jalur Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik geopolitik, sehingga mengganggu rantai pasok global.
Menghadapi kondisi tersebut, Maman menyatakan bahwa pemerintah menyiapkan strategi jangka pendek dan panjang.
Untuk jangka pendek, ia menyebut Indonesia telah mengamankan pasokan nafta dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India dan Amerika.
Sementara itu, langkah jangka panjang diarahkan pada diversifikasi sumber bahan baku serta pengembangan bioplastik berbasis potensi lokal seperti rumput laut dan singkong.
Selain itu, Kementerian UMKM tengah mengkaji kebijakan pendukung, antara lain subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama dan penerapan prinsip pengurangan plastik.
