DLH Jabar Sewa Alat Rp 11 Miliar untuk Upgrade TPPAS Lulut Nambo, Kapasitas Ditarget Naik 4 Kali Lipat

Begini Persiapan DLH Jabar Transformasi Pengelolaan TPPAS Lulut Nambo jadi BLUD
Sekda Jabar Herman saat meninjau TPPAS Lulut Nambo (dok humas)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat berupaya mengoptimalkan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo dengan meningkatkan kapasitas dan teknologi pengolahan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyewa alat pengolahan sampah.

Rencana tersebut tercantum dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (Sirup) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), dengan pagu anggaran mencapai Rp 11 miliar.

Kepala DLH Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, membenarkan adanya rencana tersebut. “Itu untuk upgrade mesin pengelolaan sampah,” ujarnya beberapa Waktu lalu.

Baca Juga:Puncak Diserbu! Volume Kendaraan Naik 70%, Jalur Puncak-Cianjur Padat MerayapLebaran Jadi Momen Harapan Baru, 452 Warga Binaan Lapas Garut Dapat Remisi, 2 Langsung Bebas!

Ia menjelaskan, peningkatan kapasitas TPPAS Lulut Nambo menjadi salah satu fokus utama. Saat ini, kapasitas pengolahan masih sekitar 50 ton per hari dan ditargetkan meningkat menjadi 200 ton per hari.

Menurut Ai, skema sewa dipilih karena dinilai lebih efisien dibandingkan pembelian alat secara langsung. Selain menghemat anggaran, skema ini juga mengurangi beban pemeliharaan mesin.

TPPAS Lulut Nambo sendiri telah melalui proses pengelolaan yang cukup panjang. Awalnya, fasilitas ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yakni PT Jabar Bersih Lestari (JBL), yang merupakan anak usaha PT Jasa Sarana.

Namun, menjelang akhir 2025, kontrak kerja sama tersebut diakhiri oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Saat ini, TPPAS Lulut Nambo berada dalam masa transisi dan dikelola langsung oleh DLH Jawa Barat.

Ai juga membuka kemungkinan bahwa ke depan pengelolaan TPPAS Lulut Nambo dapat kembali dikerjasamakan, termasuk dengan pihak swasta.

Sebagai informasi, TPPAS Lulut Nambo menerapkan teknologi pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif hasil olahan sampah.(son)

0 Komentar