Menjelang Lebaran, Blok Kupat Bandung Kembali Berdenyut

Warga menyelesaikan produksi kulit ketupat pada h-4 menjelang idul fitri 1447 H di Gang Blok Ketupat, Caringin
Warga menyelesaikan produksi kulit ketupat pada h-4 menjelang idul fitri 1447 H di Gang Blok Ketupat, Caringin, Kota Bandung, Rabu (18/3). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Di sudut Bandung, tepatnya di kawasan Babakan Ciparay, ada sebuah kampung yang ritmenya berubah setiap Ramadan. Warga menyebutnya Blok Kupat, tempat di mana janur dianyam menjadi kulit ketupat, hari demi hari, tahun demi tahun.

Muhammad Nizar, Jabar Ekspres

Di sini, membuat ketupat bukan sekadar pekerjaan musiman. Ia adalah tradisi yang diwariskan lintas generasi, bertahan di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, aktivitas kampung itu kembali menggeliat. Sejak pagi, tangan-tangan perajin tak berhenti menganyam daun kelapa muda. Janur-janur hijau itu perlahan berubah menjadi cangkang ketupat, hidangan khas Lebaran yang identik dengan kebersamaan.

Baca Juga:Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Lebaran, BULOG Bandung Salurkan Bantuan Beras dan Minyak GorengDirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis 

Aliyah, 55 tahun, termasuk yang masih setia menjaga tradisi tersebut. Di usianya sekarang, ia tetap duduk di depan tumpukan janur, menganyam dengan cekatan seperti yang telah ia lakukan selama puluhan tahun.

“Dari dulu memang sudah begini. Tiap mau Lebaran pasti ramai. Biasanya H-4 sampai H-2 pesanan tidak berhenti. Malah nambah juga yang jadi buruh lipat daun,” ujar Aliyah tanpa menghentikan tangannya.

Dalam sehari, ia bersama keluarganya mampu menghasilkan hingga 1.000 kulit ketupat. Setiap buah dijual seharga Rp800 hingga Rp1.000. Hasilnya kemudian mengalir ke pasar-pasar tradisional di Bandung dan sekitarnya.

Permintaan mulai meningkat pada pekan terakhir Ramadan. Namun, puncaknya datang menjelang Lebaran. Pada masa itu, pembeli berdatangan—dari pedagang yang membeli dalam jumlah besar hingga warga yang langsung datang ke rumah perajin.

“Kalau sudah mendekati Lebaran, bisa kewalahan. Banyak yang ambil ke pasar, tapi ada juga yang langsung ke sini,” kata Aliyah.

Saat musim itu tiba, hampir seluruh warga Blok Kupat ikut terlibat. Kampung kecil ini berubah menjadi sentra produksi ketupat, sebuah identitas yang telah melekat selama puluhan tahun.

Di balik kesibukan tersebut, tersimpan harapan sederhana. Aliyah berharap usahanya tetap berjalan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tak selalu mudah.

Baca Juga:Perkuat Silaturahmi, Ketua Relawan Bedas Galih Hendrawan Salurkan Paket Sembako di PameungpeukORIS Hadir di Bandung, PT SMI Ajak Masyarakat Jawa Barat Berkontribusi dalam Pembangunan Nasional

“Semoga di bulan penuh berkah ini dagangan emak laris. Sekarang juga susah untuk pulang kampung, jadi satu-satunya penghasilan ya dari sini,” ujarnya.

0 Komentar