Selama Ramadan, masjid rutin menggelar buka puasa bersama, tarawih, kajian sebelum salat, serta tadarus. Pada Idul Fitri dan Idul Adha, meski jamaah tidak banyak, salat hari raya tetap dilaksanakan.
Bahkan, setiap salat gerhana atau momen tertentu, Saepul membagikan sembako kepada jamaah.
“Kalau ada rezeki, saya kasih. Hidup ini kan harus berbagi,” ujarnya.
Baca Juga:Mendag Fokus Siapkan Strategi Hadapi Konflik Iran, Jaga Daya Beli dan Ekspor Inflasi Ramadhan Jadi Pola Tahunan, BPS Catat Lonjakan Harga Konsisten dalam 5 Tahun
Di luar Ramadan, kegiatan rutin meliputi kajian Senin malam, Jumat malam, dan Ahad Subuh, serta tablig akbar setiap tiga atau empat bulan. Sejumlah komunitas juga rutin berbagi makanan setiap akhir pekan, dengan porsi mencapai 150 hingga 250 paket.
Soal Ancaman Pembongkaran
Jika suatu saat masjid harus dibongkar, Saepul mengaku siap.
“Kalau amal jariah dan amal saleh sudah tercatat di Allah, saya mah tenang. Ini bukan milik saya. Yang penting tempat ini jangan balik lagi ke maksiat,” tegasnya.
Bagi Saepul, masjid di bawah jembatan tol itu bukan sekadar bangunan tanpa izin formal, melainkan ruang perubahan. Dari lokasi yang dulu identik dengan kriminalitas, kini menjadi tempat sujud dan berbagi.
“Tujuan saya cuma satu, supaya tempat ini tidak jadi maksiat lagi. Itu saja,” katanya.
