Seabad Peci M Iming: Bertahan di tengah Peralihan Zaman

Seabad Peci M Iming: Bertahan di tengah Peralihan Zaman
Pekerja menyelesaikan produksi kopiah di pabrik kopiah M. Iming, di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Kamis (26/2). Menurut pemilik, produksi kopiah pada bulan Ramadan tahun ini meningkat hingga sepuluh kali lipat dengan memproduksi hingga 10.000 buah kopiah lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di kawasan Simpang Lima, Kota Bandung, sebuah toko lawas masih setia menjual peci hitam yang namanya bertahan lebih dari seratus tahun. Peci M Iming.

Usaha ini dirintis Mas Iming, kelahiran 1888, yang mulai berjualan pada 1912 di tepi Groote Postweg, kini Jalan Ahmad Yani.

Berbekal keterampilan yang dipelajari dari kerabatnya di Pasar Baru, dirinya membangun reputasi lewat kualitas.

Baca Juga:Tegep Boots, Produk Sepatu Kulit Dari Selatan Kota yang Tembus MancanegaraTren Percetakan Al-Quran Meningkat di Ramadan, dari Hadiah hingga CSR

Sejak 1930, rumah produksi sekaligus toko berdiri dan menjadi sentra penjualan. Konsep dasar peci termasuk racekan dan bahan kain keras, dipertahankan hingga kini.

Peci buatannya pernah dipakai tokoh nasional sejak era Soekarno. Di masa lebih baru, mantan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil termasuk pelanggan tetap.

Generasi keempat, Ella, kini meneruskan usaha keluarga sebelum tongkat estafet beralih ke anak laki-lakinya sebagai generasi kelima.

“Setelah Bapak tidak ada sebetulnya. Jadi saya mulai (ikut melanjutkan),” ujar Ella kepada Jabar Ekspres di Toko Peci M. Iming, Kamis (26/2/2026).

“Tadinya hanya mendampingi ibu saya. Nah lama-lama ya dengan berjalannya waktu, ya karena saya yang disini jadi saya akhirnya meneruskan . Cuman meneruskan seperti dulunya ya, aturan dulunya, adab-adabnya,” sambungnya.

Dia mengakui banyak perubahan, dari bahan hingga tenaga kerja. Jika dulu keterampilan diwariskan turun-temurun dalam satu keluarga, kini pola itu tak lagi mudah ditemukan. Persaingan pun makin ketat.

“Secara pejualan stabil sih. Meski saingan sudah sangat banyak ya. Meningkat signifikan tidak juga. Tapi stabil aja,” katanya.

Baca Juga:Rumah Quran Isyaroh, Cahaya bagi Santri Tuna RunguSepatu dari Ceker Ayam: Dari Bandung ke Panggung Dunia

Ramadan tetap menjadi musim panen. “Pengusaha peci itu mungkin kita panennya di Ramadan ya. Karena memang peningkatannya bisa bandingannya itu 1 ke-10,” ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk Lebaran, mereka menyiapkan 300-500 kodi. Pandemi Covid-19 sempat menghambat penjualan karena toko tak bisa buka. Namun justru saat itu generasi kelima membuka pasar daring.

“Malah terjadinya COVID-19 itu ada berkah tersendiri. Yaitu akhirnya kita buka online. Jadi online itu sangat-sangat membantu ya buat kita,” tambahnya.

Namun saat ini, Ella menyimpan harapan lebih jauh. Peci hitam tak hanya dipakai saat Lebaran atau acara resmi, tetapi menjadi busana harian, sebagaimana di Malaysia atau Brunei. “Penjual peci ya pengennya seperti itu,” pungkasnya.

0 Komentar