JABAR EKSPRES – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang sebagai intervensi peningkatan gizi bagi siswa sekolah justru memunculkan persoalan serius di Kota Cimahi. Pada Rabu (25/2/2026), program tersebut diduga menjadi pemicu keracunan massal yang menimpa puluhan siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Keracunan itu tidak hanya menimpa para siswa, sejumlah orang tua yang menerima paket MBG melalui Posyandu juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Sejumlah korban mengalami keluhan kesehatan yang mengarah ke dugaan keracunan berupa mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi makanan MBG. Beberapa diantaranya bahkan harus mendapatkan penanganan medis lanjutan di rumah sakit.
Baca Juga:Menu MBG Diduga Basi, Onigiri dan Telur Rebus Picu Dugaan Keracunan di SDN Cimahi Mandiri 4Menu MBG Diduga Picu Keracunan Sejumlah Siswa SD-SMP di Cimahi
Insiden ini menambah daftar panjang persoalan keamanan pangan dalam program bantuan makanan berskala besar yang menyasar kelompok rentan.
Salah satu orang tua balita berusia 22 bulan yang ikut terdampak, Riska (28), warga Margamulya RT 06 RW 01, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah. menuturkan bahwa paket MBG yang diterima anaknya berisi onigiri, telur, dan susu.
“Anak saya cuma makan onigiri dan satu butir telur, tapi ternyata ada yang bilang telurnya ada yang busuk. Untungnya anak saya aman, tapi reaksi muncul sekitar pukul 20.30 WIB: dia buang air besar dua kali, lalu muntah sekali, dan akhirnya muntah sisa makanan yang tadi dimakan. Kami langsung bawa ke IGD,” ujar Riska saat diwawancarai di IGD RSUD Cibabat.
Meski anaknya tidak menghabiskan seluruh isi paket makanan, gejala keracunan tetap muncul beberapa jam kemudian. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir, terlebih setelah mengetahui bahwa bukan hanya anaknya yang mengalami gangguan kesehatan.
Riska mengungkapkan, berdasarkan informasi yang ia terima, dapur pengolahan makanan MBG berada di wilayah Karang Mekar. Namun, pendistribusian makanan dilakukan melalui Posyandu di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kami cuma dapat info kalau ada MBG hari ini dari Posyandu, lalu kami ambil. Ternyata kejadian begini. Di Posyandu ada sekitar 2-3 orang yang juga terdampak, dan ada yang dirawat di RS Mitra Kasih juga,” tambahnya.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa dampak keracunan tidak terbatas pada siswa penerima manfaat utama, tetapi juga meluas ke masyarakat umum, khususnya orang tua yang mengambil atau ikut mengonsumsi makanan MBG di Posyandu. (Mong)
