JABAR EKSPRES – Tumpukan sampah di kawasan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pangaritan, Cipadung Kulon, Kota Bandung, dapat mencapai hingga 24 ton per hari. Kondisi tersebut membuat petugas pengangkut sampah harus bekerja ekstra hingga 12 jam setiap harinya guna mencegah penumpukan.
Salah seorang petugas pengangkut sampah, Asep Dodi (37), mengatakan dirinya mulai bekerja sejak pukul 05.00 WIB hingga 18.00 WIB. Rutinitas tersebut telah dijalaninya selama hampir tiga tahun.
“Kalau volumenya meningkat, sampah bisa mencapai 24 ton per hari, bahkan bisa lebih,” ujar Asep saat ditemui di lokasi, Senin (9/2/2026).
Baca Juga:Cibiru Macet Tiap Hari, Pengendara Ngeluh: Menyusahkan!Harga Cabai Melambung Tinggi, Ibu Rumah Tangga di Bandung Timur Dipaksa Berhemat
Menurut Asep, mayoritas sampah yang diangkut berasal dari rumah tangga. Beban kerja petugas semakin berat ketika cuaca tidak menentu, terutama saat musim hujan. Sampah basah dinilai paling sulit ditangani karena bobotnya lebih berat.
Selain itu, risiko kerja juga kerap datang dari benda berbahaya seperti pecahan kaca yang sering tercampur dengan sampah rumah tangga.
“Yang paling berat itu sampah basah. Kalau risikonya, biasanya dari pecahan kaca yang bisa membahayakan petugas,” katanya.
Tak hanya menghadapi beban fisik, Asep mengaku pekerjaan tersebut juga memiliki risiko kesehatan. Ia kerap mengalami sakit badan, pegal-pegal, hingga panas dingin akibat kondisi kerja yang berat dan lingkungan yang kurang aman.
“Namanya kerja di lapangan pasti ada risikonya. Badan sering sakit dan pegal, kadang juga panas dingin,” ujarnya.
Asep juga menyoroti tingkat kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah yang dinilainya masih belum merata. Meski sebagian warga sudah membuang sampah ke TPS dengan benar, masih ada warga yang kurang peduli, termasuk mencampur sampah rumah tangga dengan benda berbahaya.
Dalam pelaksanaan tugasnya, petugas tidak menetapkan tarif khusus kepada warga.
“Kalau tarif tidak ada, seikhlasnya saja,” ucapnya.
Ia berharap pengangkutan sampah ke depannya dapat dilakukan setiap hari agar tidak terjadi penumpukan yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.(Magang/Anya Anindya Clarissa)
