Langkah Tua Emak Eti, Rezeki dari Gorengan

Emak Eti seorang pedagang paruh baya yang ada di Area Kampus 1 UIN Bandung, selalu semangat untuk mencari rez
Emak Eti seorang pedagang paruh baya yang ada di Area Kampus 1 UIN Bandung, selalu semangat untuk mencari rezeki setiap harinya. Sumber : Aisya Karoma Nursida/ Magang Jabar Ekspres
0 Komentar

Di usia senjanya yang telah menginjak 78 tahun, semangat Emak Eti tak pernah padam. Setiap hari, perempuan paruh baya itu tetap setia berjualan gorengan demi mencukupi kebutuhan hidupnya.

Magang, Aisya Karoma Nursdia

Aktivitasnya dimulai sekitar pukul 07.30 WIB hingga selepas Ashar. Emak Eti menjajakan aneka gorengan dengan harga terjangkau, berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per buah.

Sebagian dagangannya merupakan titipan orang lain, sementara beberapa jenis gorengan ia buat sendiri. Lokasi berjualannya biasa berada di sekitar Kampus 1 Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN) Bandung.

Baca Juga:MTsN Kota Cimahi Salurkan Bantuan untuk Korban Longsor Pasir LanguJumlah Bodypack Melebihi Daftar Pencarian, SAR Temukan Tujuh Korban di Hari ke-10

Dari setiap gorengan yang terjual, Emak Eti hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp200. Dalam sehari, penghasilannya berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. Artinya, dari 100 buah gorengan yang laku terjual, ia hanya mengantongi keuntungan sekitar Rp20 ribu—itu pun jika dagangan habis seluruhnya. Jika hingga sore hari masih tersisa, Emak Eti pulang dengan pendapatan seadanya.

Menjelang Ramadan, Emak Eti tetap berencana berjualan. Bahkan, ia akan menambah menu dagangannya berupa kolak. Selama bulan suci, jam berjualannya berubah, dimulai pukul 17.00 WIB hingga 18.00 WIB menjelang waktu berbuka puasa.

Emak Eti merupakan ibu dari lima orang anak. Namun, satu di antaranya—anak ketiga—meninggal dunia saat masih berusia delapan bulan akibat penyakit yang dideritanya. Tak hanya itu, ia juga harus menerima kenyataan pahit ditinggal suami sejak anak bungsunya masih duduk di kelas dua sekolah dasar.

Sejak saat itu, Emak Eti menjalani hidup sebagai orang tua tunggal, menghidupi diri dan keempat anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan dan kesedihan yang dialami, ia tetap berusaha tegar dan bersyukur atas segala ketentuan Tuhan.

Emak Eti mengaku bersyukur karena seluruh anaknya dapat mengenyam pendidikan hingga lulus SMA dan kini mampu mencukupi kebutuhan masing-masing.

“Nuhun Gusti, abi tiasa nyalolakeun barudak, tiasa sakola sanajan henteu dugi kuliah. Emak mah ayeuna mah nyukupan sakieu waé. Mugi Allah masihan rezeki,” tutur Emak Eti saat ditemui Jabar Ekspres, Senin (2/2/2026).

0 Komentar