Interaksi Faktor Alam dan Aktivitas Manusia Picu Longsor di Cisarua Bandung Barat

Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor di Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Senin (26/1)
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban longsor di Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, Senin (26/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, menilai peristiwa longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, tidak dapat dipahami semata sebagai dampak alih fungsi lahan.

Menurut Imam, kejadian tersebut merupakan hasil interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia, yang memicu mekanisme aliran lumpur atau mudflow.

“Kejadian tersebut merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia,” kata Imam secara tertulis diterima Senin (26/1).

Baca Juga:Layvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling MenentukanDion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib Bandung

“Menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, wilayah KBB berada pada lingkungan geologi produk vulkanik tua yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal.

Menurutnya, batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincir longsoran, terutama ketika hujan berlangsung dalam durasi panjang.

“Kondisi ini semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh,” ujar Imam.

Imam menambahkan, pemicu longsor tidak hanya ditentukan oleh lamanya hujan, tetapi juga intensitasnya. Dalam ilmu kebumian, terdapat hubungan antara durasi dan intensitas hujan.

Hujan berintensitas sedang namun berlangsung lama, menurut dia, dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam waktu singkat.

Menurut dia, kejenuhan air menyebabkan penurunan kekuatan geser lereng secara drastis. “Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” pungkasnya.

0 Komentar