Rumah Itu Pergi Saat Semua Masih Terlelap

Rumah Itu Pergi Saat Semua Masih Terlelap
Rumah milik Ahmad rata dengan tanah usai dihantam material longsor dari kaki Gunung Burangrang. Sabtu (24/1). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ahmad Ule (38) berdiri lama di kaki Gunung Burangrang. Ia tak banyak bergerak, hanya menatap tanah coklat yang membentang luas di hadapannya.

Di sanalah rumahnya pernah berdiri. Kini, yang tersisa hanyalah potongan atap, kayu-kayu patah, dan serpihan perabot yang separuh tubuhnya terkubur lumpur.

Sesekali, Ule menunduk. Napasnya berat. Pandangannya kosong seolah masih mencari bentuk rumah yang telah hilang dalam ingatannya.

Baca Juga:Tancap Gas! Indonesia Manfaatkan WEF Davos 2026 untuk Perkuat Posisi di Mata Investor Global Reformasi Tata Kelola, Dedi Mulyadi akan Pangkas Puluhan BUMD Jabar Jadi Satu Holding 

Longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada dini hari Sabtu (24/1/2026), datang tanpa aba-aba.

Hujan deras dan angin kencang sudah menyelimuti kampung itu sejak Jumat siang, namun tak seorang pun menduga bahwa malam, akan menjadi malam terakhir rumah mereka berdiri.

Sekitar pukul 02.00 WIB, Ule terbangun dari tidurnya. Di luar, suara teriakan terdengar saling bersahutan, warga meminta tolong dalam kepanikan.

“Saya kaget. Masih setengah sadar, tapi dengar orang teriak-teriak,” kata Ule pelan.

Di kamar sempit itu, istri Ule yang tengah mengandung dan anak mereka masih terlelap. Di sela kebingungan, suara gemuruh samar terdengar dari arah perbukitan Gunung Burangrang. Bunyinya berat, panjang, dan tak biasa seperti tanah yang sedang bergerak mencari jalan jatuhnya.

Naluri Ule mendorongnya ke pintu. Ia berniat keluar rumah, hendak menolong warga yang berteriak dalam gelap. Namun saat pintu dibuka, langkahnya terhenti.

Tanah longsor sudah mengadang. Tingginya hampir setara dada orang dewasa. Lumpur basah dan material rumah lain berhimpitan, menutup akses keluar.

Baca Juga:Dorong Kemandirian Energi, Menteri ESDM Setop Impor untuk SPBU Swasta di 2026 Program Diskon Nasional Perkuat UMKM, Transaksi Lampaui Target Tembus Rp122,28 Triliun 

“Di situ saya langsung sadar. Kalau nekat keluar, habis,” ujarnya lirih.

Tak ada waktu berpikir panjang. Ule kembali ke dalam rumah. Ia menggendong anaknya, menggenggam tangan istrinya yang ketakutan, lalu mencari celah untuk menyelamatkan diri. Tak satu pun barang sempat dibawa. Tak ada pakaian. Tak ada dokumen. Bahkan alas kaki pun tertinggal.

“Yang ada di kepala cuma satu. Istri dan anak harus selamat,” katanya.

Beberapa jam kemudian, mereka tiba di aula Kantor Desa Pasirlangu, tempat pengungsian sementara bagi warga yang lolos dari bencana. Di sana, Ule duduk terdiam. Tubuhnya selamat, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah yang kini terkubur tanah.

0 Komentar