Iran Sebut Aksi Protes Sebagai Lanjutan Konflik dengan Israel, Otoritas Lakukan Penyelidikan Menyeluruh

Iran Sebut Aksi Protes Sebagai Lanjutan Konflik dengan Israel, Otoritas Lakukan Penyelidikan Menyeluruh
Bendera Iran terlihat di markas besar PBB di New York, AS, Rabu (8/1/2020). (SUMBER FOTO: ANTARA/Xinhua/Li Muzi/am/aa.)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Otoritas Iran menilai meningkatnya eskalasi aksi protes di dalam negeri sebagai kelanjutan dari konflik 12 hari dengan Israel. Pemerintah Iran berkomitmen untuk menyelidiki seluruh bentuk provokasi, baik yang diduga melibatkan aktor internasional maupun pihak domestik. Hal tersebut disampaikan oleh sumber diplomatik Iran kepada kantor berita RIA Novosti.

Sebelumnya, pada 12 Januari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjelaskan bahwa gelombang protes yang terjadi pada akhir Desember 2025 awalnya berlangsung secara damai. Aksi tersebut berfokus pada kawasan pasar dan kelompok serikat pekerja, dan pada tahap awal, otoritas Iran disebut telah membuka ruang dialog dengan para peserta unjuk rasa.

Namun, situasi berubah ketika demonstrasi memasuki fase berikutnya. Menurut Araghchi, pada tahap kedua muncul sejumlah pihak baru yang tidak terlibat sejak awal, sehingga aksi protes mulai berkembang menjadi bentrokan dan tindakan kekerasan.

Baca Juga:Alcaraz dan Sinner Siapkan Strategi Baru Jelang Australian Open 2026Trump Ragukan Peran Denmark di Greenland, Sebut AS Harus Turun Tangan Demi Keamanan

Kondisi ini memicu kekhawatiran pemerintah terhadap arah dan tujuan unjuk rasa tersebut.

Memasuki periode 8 hingga 10 Januari, sumber diplomatik Iran menyebut bahwa sejumlah elemen bersenjata dan kelompok yang dikategorikan sebagai teroris mulai muncul. Kelompok-kelompok ini diduga berupaya menciptakan kekacauan, memicu pemberontakan, serta menimbulkan korban jiwa demi memperkeruh situasi keamanan nasional.

Pada fase ketiga, individu bersenjata dilaporkan melepaskan tembakan ke arah aparat kepolisian dan warga sipil. Tindakan tersebut disebut bertujuan untuk memancing reaksi keras dan membuka peluang campur tangan Amerika Serikat.

Iran memandang fase ini sebagai bagian dari rangkaian konflik yang mereka sebut sebagai lanjutan “Perang 12 Hari”.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa seluruh aksi kriminal yang terjadi akan diselidiki secara menyeluruh oleh lembaga nasional maupun internasional. Sumber tersebut menambahkan bahwa tahap keempat protes dimulai pada 10 Januari, namun saat ini kondisi dinilai telah terkendali.

Banyak pihak yang disebut sebagai elemen teroris telah ditangkap saat membawa senjata, dan pengakuan mereka akan dipublikasikan dalam waktu dekat.

Selain itu, otoritas Iran juga menuding adanya praktik pembayaran kepada sebagian pelaku kerusuhan. Disebutkan bahwa beberapa individu menerima imbalan sekitar 600 dolar AS untuk menyerang kantor polisi dan sekitar 300 dolar AS untuk membakar kendaraan milik pemerintah.*

0 Komentar