Di Balik Megahnya Gapura Pemkot Cimahi, Maestro Sunda Soroti Identitas Budaya Gegara Kesalahan Aksara

Gapura Pemkot Cimahi menuai sorotan usai ditemukan kesalahan fatal penulisan aksara Sunda Baku. Maestro budaya
Gapura Pemkot Cimahi menuai sorotan usai ditemukan kesalahan fatal penulisan aksara Sunda Baku. Maestro budaya Sunda menilai kekeliruan ini mencederai identitas dan citra Kota Cimahi sebagai kota berbudaya (Mong)
0 Komentar

Megah berdiri di kawasan pusat pemerintahan, gapura baru Pemerintah Kota Cimahi sejatinya dihadirkan sebagai simbol kebanggaan. Relief yang menghiasi sisinya dirancang untuk merekam sejarah, sekaligus menegaskan identitas kota yang terus bergerak maju.

Firman Satria, Jabar Ekspres.

Namun, di balik kemegahan visual tersebut, tersimpan satu detail yang luput dari perhatian detail yang justru menyentuh akar budaya masyarakat Sunda.

Gapura yang dibangun menggunakan anggaran APBD Tahun 2024 itu sejatinya dirancang sebagai ikon baru Kota Cimahi. Di era kepemimpinan Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, bangunan tersebut diharapkan menjadi penanda kemajuan sekaligus representasi identitas budaya lokal.

Baca Juga:Komitmen Bangun Zona Integritas, Kanwil Kemenkum Jabar Tandatangani Perjanjian Kinerja dan Pakta Integritas Rekomendasi 6 Minuman, Jaga Gula Darah Tetap Stabil

Sayangnya, harapan itu sedikit terkikis oleh persoalan mendasar, kesalahan dalam penggunaan aksara Sunda Baku.

Maestro Aksara Sunda, Yudistira Purana Sakyakirti, yang akrab disapa Mang Ujang Laip mengakui bahwa secara konsep, pembangunan gapura sebagai ikon kota layak diapresiasi.

“Saya sebagai masyarakat Cimahi sungguh berharap era kepemimpinan saat ini akan membawa kemajuan bagi kota dalam segala bidang,” kata Mang Ujang Laip, Rabu, (14/1/26).

Namun, apresiasi tersebut berubah menjadi keprihatinan ketika ia mencermati detail aksara Sunda yang terpasang di gapura.

Menurut Mang Ujang Laip, ada dua persoalan krusial yang tak bisa diabaikan. Pertama, soal ketidaksamaan bentuk aksara dengan plang nama jalan beraksara Sunda yang sebelumnya sudah terpasang di berbagai sudut Kota Cimahi.

“Ada dua poin krusial yang menjadi perhatiannya. Pertama, tidak adanya keseragaman aksara dengan plang jalan yang telah lebih dulu dipasang di seluruh kota,” ujarnya.

Perbedaan gaya penulisan yang mencolok ini, lanjutnya, bukan sekadar persoalan estetika. Dampaknya bisa memicu kebingungan publik dan mempertanyakan sejauh mana pemahaman terhadap keaksaraan daerah benar-benar dipahami.

Baca Juga:5 Rutinitas Sehat di Usia 50, Bantu Tetap Kuat hingga Usia 80 TahunLapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan Sementara

“Perbedaan ini terjadi bukan tanpa sebab, kemungkinan besar karena kurangnya koordinasi dengan pihak yang kompeten,” ucapnya.

“Seolah pembuat gapura terlalu percaya diri, bahkan dengan bangga memamerkan keahlian yang salah tanpa menghiraukan saran dari ahli,” sambung Mang Ujang Laip.

Persoalan kedua dinilai jauh lebih serius. Mang Ujang Laip menyoroti kesalahan fatal dalam penulisan makna. Pada aksara Sunda Baku yang seharusnya berbunyi “Saluyu Ngawangun Jati Mandiri”, selaras dengan teks latin di bagian atas justru tertulis “Saluyu Gawagun Jati Mandiri”.

0 Komentar