Di Balik Megahnya Gapura Pemkot Cimahi, Maestro Sunda Soroti Identitas Budaya Gegara Kesalahan Aksara

Gapura Pemkot Cimahi menuai sorotan usai ditemukan kesalahan fatal penulisan aksara Sunda Baku. Maestro budaya
Gapura Pemkot Cimahi menuai sorotan usai ditemukan kesalahan fatal penulisan aksara Sunda Baku. Maestro budaya Sunda menilai kekeliruan ini mencederai identitas dan citra Kota Cimahi sebagai kota berbudaya (Mong)
0 Komentar

Kesalahan ini, menurutnya, bukan sekadar salah ketik. Letak gapura sebagai gerbang utama kantor pemerintahan menjadikan kekeliruan tersebut mencoreng citra kota secara simbolik.

“Kita tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa di Cimahi sendiri sudah banyak orang yang mampu membaca dan menulis aksara Sunda Baku,” ujarnya.

Ia bahkan menegaskan bahwa kemampuan tersebut telah terbukti melalui berbagai kegiatan literasi daerah.

Baca Juga:Komitmen Bangun Zona Integritas, Kanwil Kemenkum Jabar Tandatangani Perjanjian Kinerja dan Pakta Integritas Rekomendasi 6 Minuman, Jaga Gula Darah Tetap Stabil

“Bukti paling jelas adalah antusiasme peserta Lomba Menulis Surat Aksara Sunda Bagi GTK Kota Cimahi Tahun 2025 yang digelar Dinas Pendidikan pada 21 November lalu,” ucapnya.

Tak hanya itu, Cimahi juga dikenal melahirkan banyak pegiat dan komunitas keaksaraan Sunda yang kiprahnya diakui hingga luar daerah. Ironisnya, potensi lokal tersebut seolah tak dilibatkan dalam proses perancangan gapura.

Mang Ujang Laip menduga, kesalahan ini bisa berakar dari minimnya pemahaman terhadap kaidah aksara Sunda Baku, atau ketergantungan berlebihan pada aplikasi digital.

“Banyak yang salah mengira bahwa cukup mengetik dengan aksara latin lalu mengubah fontnya menjadi aksara Sunda. Padahal, susunan aksara Sunda memiliki kaidah tersendiri yang tidak bisa disejajarkan dengan sistem penulisan latin,” jelasnya.

Dengan anggaran yang tidak sedikit, kesalahan yang sejatinya bisa dihindari ini terasa semakin disayangkan. Baginya, persoalan ini bukan sekadar tentang papan tulisan, melainkan soal penghargaan terhadap identitas budaya.

“Seolah-olah warga Cimahi tidak ada yang mampu dalam hal keaksaraan daerah. Padahal, Pemkot Cimahi bisa memanfaatkan sumber daya lokal yang kompeten untuk menjaga keaslian dan kebenaran budaya yang kita banggakan,” tandasnya. (Mong)

Laman:

1 2
0 Komentar