JABAR EKSPRES – Kasus ujaran kebencian bernuansa SARA dan rasial yang dilontarkan streamer Resbob alias AF terhadap Suku Sunda kembali memantik sorotan publik. Insiden yang terjadi saat siaran langsung (live streaming) tersebut menambah deretan kontroversi yang sebelumnya juga menyeret nama Resbob, termasuk polemik penghinaan terhadap figur publik dalam kasus yang melibatkan Azizah Salsa.
Kemunculan kasus demi kasus dengan pola serupa mengindikasikan bahwa perilaku tersebut tidak bersifat insidental. Sebaliknya, terdapat kecenderungan perilaku yang berulang, konsisten, dan berlangsung di ruang publik digital.
Akademisi psikologi, Billy Martasandy, menilai fenomena ini dapat dibaca melalui perspektif psikologi kepribadian dan perilaku sosial di era media digital.
Baca Juga:Kabur lintas Kota, Resbob Akhirnya Ditangkap Polda Jabar di SemarangPolisi Kejar Konten Kreator Resbob atas Dugaan Ujaran Kebencian terhadap Suku Sunda
“Dalam psikologi, ketika seseorang berulang kali menampilkan tindakan provokatif, ofensif, dan berpotensi melanggar norma sosial, kita tidak lagi melihatnya sebagai peristiwa tunggal. Ada pola perilaku yang terbentuk dan dipertahankan,” ujar Billy saat dihubungi, Selasa (16/12/2025).
Menurut Billy, salah satu faktor yang kerap muncul pada figur publik digital yang terlibat kontroversi berulang adalah kebutuhan tinggi akan validasi dan perhatian.
“Live streaming menciptakan ruang instan untuk memperoleh respons. Baik pujian maupun kecaman sama-sama memberi umpan balik. Bagi sebagian individu, respons negatif pun tetap bernilai karena meningkatkan eksposur dan rasa eksistensi,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, individu dapat terdorong untuk terus melontarkan pernyataan ekstrem karena terbukti efektif menarik perhatian publik dan memperluas jangkauan popularitas, meskipun dilakukan dengan cara yang destruktif dan melanggar batas etika sosial.
Billy menegaskan bahwa diagnosis kejiwaan hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan klinis oleh tenaga profesional. Namun, secara akademis, perilaku yang tampak di ruang publik dapat dianalisis sebagai kecenderungan psikologis tertentu, salah satunya yang sering dibahas dalam literatur adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD).
“Beberapa karakteristik yang kerap dikaitkan dengan NPD antara lain kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, rendahnya empati, serta kecenderungan merendahkan atau menyerang pihak lain demi mempertahankan rasa superioritas diri,” kata Billy.
Ia menambahkan, tindakan merendahkan kelompok tertentu, termasuk suku atau ras, dapat berfungsi sebagai mekanisme psikologis untuk menegaskan posisi diri di atas pihak lain.
