Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keterbatasan lahan di Setiamanah menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, pengolahan sampah seperti magotisasi memungkinkan dilakukan, dengan syarat sampah sudah terpilah sejak awal.
“Pengolahan hanya bisa dilakukan kalau sampah organiknya benar-benar terpilah. Kalau masih tercampur, tidak bisa diolah,” imbuhnya.
Agus pun kembali menegaskan apresiasinya terhadap Kelurahan Setiamanah yang dinilai aktif mengambil peran dalam penanganan persoalan sampah di Kota Cimahi.
Baca Juga:Tekan Pengangkutan ke TPA, Cimahi Pasang Target 60 Persen Sampah Tertangani di Setiap Wilayah pada 2026Hujan Deras Tutup Intake BLUD Cimahi: Suplai Air Baku Sempat Terhenti Akibat Sedimen dan Sampah
Saat disinggung soal tantangan terbesar dari sisi DLH, yakni kesadaran masyarakat, Agus mengakui bahwa edukasi harus dilakukan secara terus-menerus.
“Masyarakat itu memang harus selalu diingatkan. Kami terus bekerja sama dengan kelurahan dan kecamatan sebagai garda terdepan,” katanya.
Salah satu bentuk penguatan kesadaran tersebut, lanjut Agus, adalah melalui pemberian penghargaan seperti yang dilakukan pada Setiamanah Eco Festival.
“Ini juga bagian dari cara kita mengingatkan dan memotivasi masyarakat serta para pengelola sampah,” pungkasnya. (Mong)
