Ia tak menampik bahwa kendala masih ada, terlebih dengan bertambahnya jumlah RW di Setiamanah dari semula 7 RW menjadi 13 RW. Prosesnya memang membutuhkan waktu. Meski begitu, ia mengaku bangga karena seluruh RW yang masuk ke TPS Setiamanah kini telah berkomitmen ikut berpartisipasi.
“Kurang lebih 13 RW sudah berkomitmen dan ikut dalam pengolahan sampah yang saat ini sudah mulai berjalan,” ujarnya.
Upaya sosialisasi kepada masyarakat pun terus dilakukan secara rutin. Salah satunya melalui kegiatan Jumat Bersih yang digelar setiap pekan dengan menyasar titik-titik RW.
Baca Juga:Tekan Pengangkutan ke TPA, Cimahi Pasang Target 60 Persen Sampah Tertangani di Setiap Wilayah pada 2026Hujan Deras Tutup Intake BLUD Cimahi: Suplai Air Baku Sempat Terhenti Akibat Sedimen dan Sampah
“Kalau ada RW yang tingkat pemahamannya masih kurang soal pengelolaan sampah, kami masuk ke sana. Bersama LPM, PKK, Linmas, semua bergerak di hari Jumat,” tutur Atep.
Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Agus Irwan menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif Kelurahan Setiamanah, khususnya kepada Lurah sebagai penggerak utama.
“Penghargaan ini tentu tidak lepas dari peran Pak Lurah sebagai inisiator dan pemimpin di wilayahnya,” kata Agus.
Menurutnya, persoalan sampah bukan hanya terjadi di Kota Cimahi, tetapi juga di berbagai daerah lain yang kini berada dalam kondisi darurat sampah.
“Kalau kita masih memakai paradigma lama, kumpul, angkut, buang, itu hanya tinggal menunggu waktu saja masalahnya akan berulang,” ujarnya.
Agus menyinggung kondisi TPA Sarimukti yang sudah overload, serta belum adanya kepastian terkait pembukaan TPA Legok Nangka. Jika pola lama terus dipertahankan, persoalan sampah akan terus terjadi.
“Makanya, seperti yang ditekankan Pak Lurah, sampah harus selesai di wilayah masing-masing. Tidak ada jalan lain selain pemilahan,” tegasnya.
Baca Juga:Potensi Besar Pengolahan Sampah Plastik Jadi BBM di Cimahi, Berpeluang Buka Lapangan PekerjaanCimahi Bakal Dapat Bantuan Infrastruktur Persampahan Senilai Rp50 Miliar dari Program ISWMP
Ia menjelaskan bahwa sebenarnya tidak semua jenis sampah menjadi masalah. Sampah bernilai ekonomi tinggi seperti botol plastik, kardus, dan kertas justru memiliki nilai jual. Sampah residu pun relatif tidak menimbulkan persoalan besar karena bisa disimpan beberapa hari.
“Yang paling bermasalah itu sampah organik. Kalau satu atau dua hari tidak diangkut, bisa menimbulkan bau, berair, dan berdampak ke lingkungan. Itu yang harus diselesaikan, dan kuncinya ada di pemilahan,” jelas Agus.
