Masteci Bangun Panggung Inklusif di Cimahi, dari Teater Tuli hingga Drama Musikal ‘Impian Tak Terlihat’

Masteci Bangun Panggung Inklusif di Cimahi, dari Teater Tuli hingga Drama Musikal ‘Impian Tak Terlihat’
Penampilan Drama Musikal di Hepi Fest yang Dilatih dan Dikonsep oleh Masyarakat Teater Cimahi (Masteci) (Mong)
0 Komentar

“Kemarin kita pertama kali mengadakan Teater Tuli di Jawa Barat,” jelas Ricky.

Pertunjukan itu sepenuhnya dimainkan oleh teman-teman Tuli, kolaborasi Masteci dengan Penangan Suminar. Namun langkah itu tidak berhenti di sana.

Sekarang, pertunjukan inklusif mereka juga ‘Ramah Tuli’ dengan Juru Bahasa Isyarat di panggung, dan ‘Ramah Netra’ dengan narasi pendukung untuk membantu penonton Tunanetra memahami dan merasakan cerita.

Baca Juga:UPTD Metrologi Cimahi Sidak SPBU Tindak Lanjuti Aduan MasyarakatDishub Cimahi Pasang ETLE Baru di Jalan Gandawijaya, Anggaran Capai Rp1,29 Miliar

“Tuli itu mendengar bukan hanya dengan telinga, tapi dengan hati. Mata melihat bukan hanya dengan mata tapi dengan hati,” tuturnya, mengulang pesan yang ia pegang teguh.

“Menonton teater juga tidak perlu mata, tidak perlu telinga, ketika hati disampaikan oleh hati, jadinya sebuah rasa,” sambung Ricky.

Anggota Masteci datang dari berbagai usia dan latar belakang. Ada anak SD yang baru mengenal panggung, ada pula figur senior seperti Yoyo Cedro Rahman, mantan dosen ISBI jurusan teater, yang kini berusia 71 tahun.

“Perkembangan seni itu tidak cukup hanya praktik tapi harus dengan teori-teorinya,” tegas Ricky.

Masteci pun menjaga keseimbangan itu, saat ini tercatat 17 tim teater resmi bernaung di bawah Masteci, dari SMP, SMA, hingga perguruan tinggi di Cimahi.

Pada tahun ini, Masteci kembali membuat sejarah. Bersama Sentra Abiyoso dan Sekolah Rakyat (SR), mereka menciptakan sebuah pagelaran drama musikal inklusif pertama di Indonesia.

Kolaborasi itu mempertemukan Tuli, Netra, mantan penyandang Napza, hingga anak-anak SR dalam satu panggung.

Baca Juga:Kejari Cimahi Sabet Lima Penghargaan dan Peringkat II Terbaik se-Jawa BaratMeski Keterbatasan Anggaran, Pemkot Cimahi Tegaskan Sektor Kebudayaan Tidak Boleh Terpinggirkan

“Awalnya hanya ingin membuat acara kecil, tapi setelah konsepnya jadi, lalu kami presentasikan ke Pak Wakil Wali Kota Cimahi. Didukung penuh oleh Kepala Sentra Abiyoso. Akhirnya jadilah pagelaran drama musikal kolaboratif inklusif pertama,” kata Ricky.

Cerita dibuat bersama anak-anak SR dan Sentra Abiyoso yang diramu dari pengalaman nyata mereka sehari-hari.

Prosesnya berlangsung dua bulan. Sebulan pertama untuk dasar teater, sebulan berikutnya untuk penggarapan naskah dan blocking.

Total yang terlibat mencapai 160 orang, dengan 144 pemain, termasuk 98 anak Sekolah Rakyat dan pengisi musik dari komunitas Netra.

Bagi Ricky, tantangan terbesar bukanlah teknis panggung, tapi menyatukan budaya dari dua dunia yang berbeda.

0 Komentar