Selain itu, Bayu juga menyoroti pukulan berlapis terhadap wisata edukatif lokal. “Destinasi edukatif seperti museum, galeri, pabrik lokal, dan desa wisata kehilangan segmen pasar besar dari sekolah,” katanya.
Sektor transportasi pariwisata turut terdampak, di antaranya seperti operator bus pariwisata mengalami penurunan pendapatan signifikan setiap musim liburan sekolah.
Menurut Bayu, kondisi ini ikut mengurangi antusiasme siswa. “Sekolah tak lagi mampu menawarkan pengalaman unik di luar akademik,” tuturnya.
Baca Juga:Sinyal Bangkit di Tengah Bencana, Menkomdigi Pastikan Pemulihan Jaringan Sumatra Capai 90 PersenAmarah Bojan Hodak Tak Terbendung, Paksa Wiliam Marcilio Angkat Kaki dari Persib Bandung
Bayu menawarkan beberapa opsi kebijakan alternatif. Ia mengusulkan konsep wisata edukasi berbasis lokal. “Adanya kewajiban setiap sekolah mengadakan kunjungan edukatif lokal,” usulnya.
Dia juga menekankan pentingnya dukungan pendanaan. Seperti halnya membuka opsi subsidi untuk siswa kurang mampu agar tetap dapat ikut dalam program tour edukatif.
Standarisasi biaya dan durasi menjadi poin tambahan. “Mengatur batas biaya dan durasi tour melalui SOP dinas pendidikan agar tidak terlalu mewah dan tetap edukatif,” ujarnya.
Bayu juga mendorong kemitraan dengan destinasi edukatif berbasis daerah. “Hal ini secara tidak langsung akan menumbuhkan ekonomi tanpa meninggalkan aspek pembelajaran,” katanya.
Menurut Bayu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu menyiapkan langkah sistematis. Platform digital tour lokal, misalnya seperti katalog destinasi edukatif di Jawa Barat.
Dia meminta koordinasi lintas dinas. “Melibatkan Dinas UMKM & Dispar untuk meningkatkan kesiapan tempat wisata edukatif lokal,” katanya.
Dirinya menambahkan pentingnya kesiapan guru. “Dinas Pendidikan harus melatih guru mengintegrasikan kurikulum dengan kunjungan lokal,” tambahnya.
Baca Juga:Pernyataan Igor Tolic Bongkar Situasi Panas di Persib, William Marcilio Resmi Didepak!Persib Hadapi Jadwal 'Neraka' di Desember, Ujian Berat yang Bisa Tentukan Nasib Musim
Bayu juga menilai partisipasi orang tua harus dilibatkan. Seperti mengadakan pertemuan rutin untuk mendengar pendapat orang tua atau wali murid sebelum menetapkan kegiatan luar.
“Buat kebijakan pengganti larangan dalam bentuk regulasi yang adaptif,” pungkasnya.
