Tak sedikit guru yang akhirnya dipecat, dicabut kehormatannya, bahkan dipersempit jalannya hanya karena satu langkah yang dinilai keliru, meski bertahun-tahun sebelumnya ia menanamkan nilai, kesabaran, dan kejujuran pada ratusan anak. Beruntung, dalam sebagian kasus masih ada pihak yang berdiri membela, meredakan hukuman yang telanjur dijatuhkan, dan membantu memulihkan martabat sang guru.
Di satu sisi kita menempatkan guru sebagai teladan moral; pada bagian lain, kita tak segan menimbangnya dengan standar yang tak manusiawi: harus sabar tanpa batas, benar tanpa cela, tetap tenang meski diserbu masalah.
Bagian paling getir dari ironi ini muncul dari tempat yang paling dekat: orang tua. Mereka yang seharusnya menjadi mitra utama dalam pendidikan kadang justru berubah menjadi pihak pertama yang mengangkat telunjuk.
Baca Juga:Sekolah Rakyat dan Jalan Keluar KemiskinanMemutus Siklus Perundungan di Sekolah
Komplain kecil menjelma tuntutan besar. Ketidaknyamanan berubah menjadi laporan. Bahkan sebelum guru diberi ruang menjelaskan, masalah sudah berubah menjadi kasus. Anehnya, orang tua yang paling mudah melapor sering pula adalah mereka yang berkata telah mempercayakan pendidikan anaknya pada sekolah.
Kepercayaan, ternyata, di negeri ini mudah diucapkan, tetapi cepat ditarik begitu terjadi gesekan kecil.
Jika orang tua merasa mampu mendidik anak sepenuhnya, sekolah sebenarnya tak perlu menjadi tempat menitipkan harapan sekaligus melimpahkan kemarahan.
Namun, bila memang pendidikan adalah kerja bersama, maka guru layak dihargai sebagai mitra, bukan tersangka. Karena bagaimana mungkin guru mendidik generasi tangguh bila setiap langkahnya dipertaruhkan di atas meja pengaduan? Bagaimana mungkin anak belajar hormat, bila kita sendiri tak memberi teladan menghormati mereka yang mengajar?
Di titik ini, refleksi itu mengetuk: barangkali bukan guru yang berubah, tapi kitalah yang perlu belajar kembali cara memuliakan mereka.
Bakti Sunyi
Di tengah derasnya tuntutan yang tak selalu sebanding dengan penghargaan, guru tetap datang setiap pagi dengan satu bekal yang tak pernah habis: panggilan jiwa.
Ada janji-janji perbaikan yang berembus dari berbagai arah, ada apresiasi yang kadang hanya hadir seremonial, dan ada pula ekspektasi masyarakat yang terus meninggi.
