JABAR EKSPRES – Anak tapir yang belum memiliki nama itu tampak berdiri tegap dengan kaki mungil yang masih agak goyah.
Tubuhnya pendek dan gempal khas bayi tapir, dengan bulu gelap yang dipenuhi corak loreng dan totol coklat-krem.
Moncongnya yang panjang tampak aktif mengendus tanah, sesekali melirik induknya yang sedang makan di belakang. Sorot matanya jernih dan waspada, menandai kondisi fisik yang prima.
Baca Juga:Pengelola Minta Pemkot Cabut Larangan Kunjungan ke Bandung ZooDunia Internasional Soroti Penutupan Bandung Zoo, ABM Desak KPK Turun Tangan!
Kebun Binatang Bandung kembali mencatat keberhasilan konservasi satwa dilindungi dengan lahirnya seekor anak tapir Sumatera, berjenis kelamin jantan pada Jumat (14/11) lalu.
Kelahiran itu menjadi yang kesebelas di lembaga konservasi tersebut, memperkuat reputasi Bandung Zoo sebagai tempat dengan tingkat kelahiran tapir tertinggi di Asia.
Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, mengatakan proses kelahiran berlangsung normal dan induk langsung merawat anaknya.
“Dua jam setelah lahir, dia langsung menyusui. Kondisinya sehat banget,” ujar Sulhan kepada Jabar Ekspres, Kamis (20/11).
Dengan kelahiran ini, populasi tapir di Bandung Zoo kini berjumlah 11 ekor. Ada tujuh jantan dan empat betina.
“Kami adalah lembaga konservasi terbaik untuk pemeliharaan tapir Sumatera. Untuk tingkat kelahiran, kami yang tertinggi di Asia,” kata Sulhan.
Dia menambahkan, Bandung Zoo juga membuka peluang bagi lembaga konservasi dan kebun binatang lain yang membutuhkan tapir untuk mendapatkan satwa tersebut lewat mekanisme hibah.
Baca Juga:Bandung Zoo Disegel, FK3I Sorot Sikap Pemkot yang Dinilai GegabahBandung Zoo Tetap Buka Meski Ada Imbauan Pemkot Bandung
Selain itu, pihak kebun binatang mengajak publik berpartisipasi memberi nama untuk anak tapir tersebut.
“Belum dapat nama. Kami buka siapa pun yang ingin memberi nama melalui media sosial atau menghubungi humas,” kata Sulhan.
Lantas dirinya mengharapkan, pembukaan kembali Kebun Binatang Bandung dalam waktu dekat dapat membantu pemenuhan pakan dan pemeliharaan satwa.
“Kalau operasional normal, kami bisa memberi makanan lebih baik dan menjaga kesehatan semua satwa,” pungkasnya.
