JABAR EKSPRES – Di tengah maraknya penambangan emas ilegal yang merusak kawasan konservasi, kondisi sebaliknya justru terjadi di Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor.
Berawal dari tanah sengketa, EIGER Adventure Land menjadi contoh nyata bagaimana investasi hijau mampu memulihkan kondisi alam dan menghidupkan ekonomi lokal.
Dibangun pada 2021 lalu, EIGER Adventure Land menghadirkan ekowisata di atas lahan bekas konflik agraria, dengan menanam lebih dari 100.000 pohon dab perdu, serta 8 juta tanaman semak dan penutup jalan
Baca Juga:18 Tempat Wisata Puncak Lepas dari Segel KLH, Eiger Adventure Land Siap Sambut WisatawanKLH Siap Cabut 18 Sanksi KSO, Eiger Adventure Land Segera Beroperasi Kembali
EIGER Adventure Land juga membangun 5 kolam retensi dan 205 sumur resapan untuk mengendalikan air limpasan dan mencegah banjir.
“Dulu lahan ini gundul dan penuh konflik. Sekarang, wajah Megamendung berubah total,” ujar Camat Megamendung, Ridwan.
Menurutnya, tanah negara yang sempat menjadi konflik sengketa itu kini kembali hijau setelah kawasan direboisasi, negara mendapat kontribusi, dan warga mendapat pekerjaan.
“Yang paling penting, mereka peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Transformasi hijau di Megamendung sejalan dengan visi Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq yang menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan.
“Untuk mewujudkan visi pemerintahan ini, kami mendorong ekonomi hijau dan biru yang mengoptimalkan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ujar Hanif Faisol.
“Kemandirian dan kedaulatan negara harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan hidup,” sambungnya.
EIGER Adventure Land kini telah melibatkan lebih dari 500 pekerja, termasuk 300 warga lokal, dan ditargetkan menyerap lebih dari 1.200 tenaga kerja saat beroperasi penuh.
Baca Juga:EIGER Adventure Land: Bersama Alam, Budaya, dan Masyarakat Membangun Ekowisata Bermakna untuk IndonesiaPelari dari Berbagai Penjuru Bersatu dalam BDG100 Ultra, EIGER Hadirkan Uji Coba Trail-Running
Kehadirannya tak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menggeliatkan UMKM lokal, meningkatkan penerimaan pajak dan PNBP, serta memperkuat tata kelola sosial-ekologis di wilayah tersebut.
Sementara itu, warga Sukagali Atang (70) yang kini bekerja sebagai gardener, menjadi saksi hidup perubahan tersebut.
“Saya diajari cara menanam dan merawat tanaman yang cocok di sini. Pohon yang saya tanam tiga tahun lalu sekarang sudah besar,” katanya.
Kemudian, Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Siti Amanah, menilai keberhasilan Megamendung sebagai contoh kolaborasi multipihak yang efektif.
“EIGER Adventure Land membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan bisa terwujud lewat kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat,” ujarnya.
