Berdasarkan catatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Mekarlaksana, sepanjang tahun 2022, mereka mendapatkan lonjakan pengunjung wisatawan. Tahun 2022 menjadi fase awal kebangkitan setelah pandemi. Total ada sebanyak 972 pengunjung, dengan puncak terjadi pada November, 150 orang. Aktivitas wisata mulai terasa pada pertengahan tahun. Juni hingga Juli menjadi bulan paling hidup, dengan lebih dari 130 pengunjung per bulan.
“2023 mulai berkembang lagi kunjungan wisatawan. Mulai ada lima, delapan, bahkan dalam satu tahun itu 25 sekolah, terus 45 sekolah. Nah, 2024 kemarin alhamdulillah berkembang lagi. Semakin ke sini, semakin banyak yang tertarik sekolah untuk melakukan wisata-wisata edukatif atau lebih ke outing class atau live-in,” ujar lulusan SMK Jurusan Perangkat Lunak itu.
Ada sebanyak 550 pengunjung tercatat selama 2024. Hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Lalu data sementara tahun ini, hingga Oktober 2025 menunjukkan total 425 pengunjung. Januari, tercatat ada sebanyak 135 orang, hal ini menunjukkan antusiasme awal tahun yang cukup baik. Selanjutnya, periode Agustus mencatatkan angka lonjakan tertinggi, ada sebanyak 106 pengunjung.
Baca Juga:Lebih Pintar Tapi Tak Laku, Gen Z Jadi Pengangguran Terbanyak di JabarInvestasi Deras, Tenaga Kerja Seret: Pengangguran Jabar Tembus 1,78 Juta Orang
“Kalau mancanegara semakin bertambah. Meskipun ya nggak terlalu banyak. Wisatawan luar itu lebih private. Tiga orang, dua orang. Dan mereka nggak mau di-expose. Terus kemarin juga, 2023 ada dari wisatawan China dan Jepang ingin tahu lebih detail tentang kopi,” cerita Gunawan.
“Mereka penasaran, apa sih arti kesehatan dengan kopi? Tahun 2024 kemarin itu study exchange. Pertukaran mahasiswa dari beberapa negara. Perancis, Belgia, dan Jerman. Sama satu lagi dari Afrika. Nigeria. Ada juga kunjungan wisatawan mancanegara yang diinisiasi oleh kampus ITB,” sambungnya.
Selain geliat pertanian, ia menyebutkan, keunggulan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Desa Mekarlaksana sebagai daya tarik. Mulai dari kerajinan tangan kain lap atau ‘cempal’ dari olahan limbah pabrik, makanan ringan otak-otak, hingga olahan minuman herbal wedang jahe. Semua itu sedikit banyak menjadi kesibukan lain para warga desa di samping menjalani hari-hari berkebun.
Tak ayal, ide sederhana itu tak hanya menarik kunjungan, tetapi juga apresiasi pemerintah setempat. Dinas Budaya Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bandung memberi penghargaan bagi mereka sebagai Pengelolaan Homestay Terbaik pada Desember 2022 lalu. Desa kelahiran Gunawan merekah lebih jauh. Bukan sekadar desa yang merawat lahan pertanian, perkebunan, dan kesenian. Melainkan desa wisata menaburkan nilai-nilai kehidupan sederhana desa bagi para wisatawan.
