Yang Merekah di Desa Wisata Mekarlaksana

Pemandu wisata atau tour guide dari Desa Wisata Mekarlaksana bersama para pelajar saat edukasi pertanian
Pemandu wisata atau tour guide dari Desa Wisata Mekarlaksana bersama para pelajar saat edukasi pertanian dan persawahan, di Kampung Cilopang, Desa Mekarlaksana, Kabupaten Bandung, Kamis (30/10). (Muhamad Nizar/Jabar Ekspres).
0 Komentar

Sepanjang tahun 2020 sampai 2021, mereka kerap berkumpul demi kemajuan desa. Mereka berpikir sesuatu paling dekat. Menjalani kehidupan desa. Mereka pun mulai mengemas sedemikian rupa edukasi wisata yang bakal disuguhkan. Perihal edukasi pertanian, perkebunan, dan kesenian lokal bagi para wisatawan.

“Alhamdulillah berkat pemikiran-pemikiran dari akademisi lokal juga, kami kolaborasi, bagaimana caranya dapat memberdayakan masyarakat dari pariwisata?” ungkap Ketua Desa Wisata Mekarlaksana itu.

Diantaranya melalui kerajinan menyulam cempal yang lahir dari kekosongan. Warga Desa Mekarlaksana yang memiliki waktu luang seusai berkebun, pada 2018, mulai belajar membuat lap kain tebal untuk melindungi tangan dari panas atau digunakan sebagai alas panci. Mereka mengadopsi kebiasaan warga Desa Cihanyir, desa tetangga itu mampu memproduksi lap tersebut yang berasal dari limbah pabrik.

Baca Juga:Lebih Pintar Tapi Tak Laku, Gen Z Jadi Pengangguran Terbanyak di JabarInvestasi Deras, Tenaga Kerja Seret: Pengangguran Jabar Tembus 1,78 Juta Orang

“Setelah pulang dari kebun jam 12 siang, misalnya. Sudah tidak ada pekerjaan. Jenuh lah. Setelah mengetahui siapa pembeli tetapnya, warga mulai mengisi waktu luang membuat itu,” kata Gunawan.

Ia merincikan, satu kodi cempal dengan harga Rp13 ribu dinilai terlalu kecil, meskipun bukan pekerjaan utama. Namun dari sana geliat ekonomi kerajinan tangan mulai berjalan sampai saat ini. Hingga pada akhirnya, ibu-ibu diberdayakan dalam paket wisata di Desa Mekarlaksana.

Setiap mereka dapat kunjungan, mereka tak hanya dengan telaten memperlihatkan menyulam cempal, tetapi juga menceritakan proses dan dari mana semua itu bermula.

“Emang tadi cari waktu. Terus buat penghasilan. Tapi kalau kami hubungkan dengan pariwisata. Ini bisa lebih dari 13 ribu,” ceritanya.

Dirasa masih belum cukup. Pada tahun 2022, mereka mencetuskan ide wisatawan dapat tinggal di desa untuk beberapa hari dengan paket wisata live in. Tak disangka, kata Gunawan, dengan tambahan ide sederhana, roda ekonomi desa pun mulai melaju perlahan sejalan dengan niat pemberdayaan masyarakat.

“Kami tentukan target kunjungan untuk pelajar. Rata-rata sekolah. Mungkin kami tuh nggak punya anggaran untuk membuat homestay, jadi kami berdayakan masyarakat yang punya rumah dan mempunyai kamar lebih. Terus konsepnya lebih ke interpretasi dari kitanya ke siswanya. Bagaimana caranya ketika apa yang dilakukan di sini menjadi sebuah pembelajaran berharga?” harapnya.

0 Komentar