Selain itu, dirinya menyoroti ketimpangan geografis yang turut berkontribusi terhadap tingginya pengangguran. Pertumbuhan industri di Jabar cenderung terkonsentrasi di wilayah seperti Karawang, Bekasi, dan Cikarang, sementara daerah seperti Garut, Tasikmalaya, dan Sukabumi, masih tertinggal dalam penyerapan tenaga kerja.
“Ini menyebabkan spatial mismatch. Banyak pencari kerja ada di daerah yang jauh dari pusat industri, sementara relokasi kerja tidak mudah karena keterbatasan biaya, transportasi, dan faktor sosial,” katanya.
Kondisi pengangguran di Jawa Barat paling dirasakan oleh kelompok usia muda atau generasi Z (15–24 tahun). Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran pada kelompok usia muda di Jawa Barat lebih dari 40 persen, jauh di atas rata-rata usia produktif lain.
Baca Juga:Investasi Deras, Tenaga Kerja Seret: Pengangguran Jabar Tembus 1,78 Juta OrangSusahnya Hidup Sehat di Era Medsos
“Gen Z kini menghadapi paradoks. Mereka lebih terdidik dibanding generasi sebelumnya, tapi justru paling banyak menganggur,” tuturnya.
Menurutnya, sebagian besar Gen Z memiliki aspirasi kerja yang berbeda. Banyak yang lebih tertarik pada pekerjaan digital, kreatif, atau yang fleksibel secara waktu.
Sementara itu, lapangan kerja yang tumbuh paling pesat di Jawa Barat justru di sektor manufaktur dan industri berat yang menuntut kedisiplinan dan kerja lapangan.
“Perusahaan industri cenderung mencari tenaga kerja dengan pengalaman teknis, sementara banyak Gen Z adalah lulusan baru tanpa pengalaman kerja. Akhirnya, perusahaan enggan merekrut, dan anak muda menunggu pekerjaan ideal yang jarang datang,” jelasnya.
Fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran jangka panjang. Gen Z yang terlalu lama menganggur berisiko kehilangan kemampuan kerja (skill depreciation) dan produktivitasnya menurun. Dalam jangka panjang, ini bisa menimbulkan beban sosial dan ekonomi baru bagi daerah.
Menurutnya, fenomena ini lazim disebut sebagai jobless growth, ketika ekonomi tumbuh, tetapi kesempatan kerja tidak meningkat secara signifikan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa meskipun kawasan industri terus berkembang, angka pengangguran tetap tinggi.
Sebagai langkah perbaikan, Watno menilai solusi jangka pendek harus berfokus pada peningkatan keterampilan cepat dan mempertemukan pencari kerja dengan industri secara langsung.
Baca Juga:Korban Ledakan SMAN 72 Kelapa Gading Meningkat Jadi 54 Orang, Kapolda Metro Jaya Turun TanganPanik di Masjid Sekolah, Ledakan di SMA 72 Kelapa Gading Lukai Dua Orang
“Pemerintah daerah bisa meluncurkan bootcamp pelatihan intensif selama tiga sampai enam bulan. Peserta bisa belajar keterampilan yang dibutuhkan industri, seperti operator mesin, desain teknis, hingga manajemen logistik,” paparnya.
