“Masa depan transportasi modern Indonesia bergantung pada keberanian untuk membenahi, mendekatkan, dan memanusiakan layanan publik,” imbuhnya.
“Bukan sekadar membanggakan kecepatannya. Sebab bila tidak, Whoosh akan tinggal nama: cepat, canggih, tapi asing dari kebutuhan rakyat,” pungkas Akbar. (Bas)
