“Melalui edukasi, kami ingin mengisi mindset anak-anak dengan pengetahuan yang benar tentang HAM. Mereka diajak untuk memahami bagaimana menghormati diri sendiri dan orang lain,” tutur Fiatri.
Tahapan kedua, lanjutnya, adalah internalisasi. Pada tahap ini, peserta diajak menerapkan nilai-nilai HAM dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
“Setelah mereka memahami konsepnya, kami dorong agar mereka bisa menjadi agen perubahan di lingkup sosial mereka. Targetnya, kami ingin mewujudkan sekolah di Cimahi yang zero bullying,” ungkapnya.
Baca Juga:8 Jabatan Pimpinan di Pemkot Cimahi Segera Dibuka Lewat Open BiddingInovasi Pelatihan Disnaker Cimahi Diuji di Tengah Pasar Kerja yang Kian Sempit
Tahapan terakhir yaitu kolaborasi, di mana peserta didorong untuk menciptakan kegiatan bersama yang berorientasi pada nilai kemanusiaan.
Menurut Fiatri, kolaborasi ini bukan hanya antar pelajar, tetapi juga antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan organisasi masyarakat.
“Faktanya, kolaborasi itu sudah terwujud melalui kegiatan hari ini. Kami berterima kasih kepada Pemkot Cimahi yang telah membuka ruang bagi NGO internasional seperti kami untuk turut berkontribusi dalam penguatan kapasitas generasi muda,” ujarnya.
Fiatri yang mewakili organisasi yang berpusat di Jenewa, Swiss, juga mengapresiasi dukungan penuh dari Pemkot Cimahi.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah memiliki komitmen tinggi terhadap pendidikan nilai-nilai kemanusiaan.
“Berkat kolaborasi ini, alhamdulillah kami dapat mengumpulkan 500 pelajar di gedung yang representatif. Ini bentuk political will luar biasa dari pemerintah Kota Cimahi,” tandasnya. (Mong)
