Dia mengaku hendak membeli tiga batang rokok di depan Graha Gedung Merah Putih Telkomsel, menukar uang untuk biaya parkir. Tiba-tiba seorang pria menodongkan pistol dan menyuruhnya tiarap.
“Saya enggak kuat dipukulin. Saya enggak kuat disetrum. Pingsan. Saat sadar saya digebukin lagi. Jadi daripada terus disiksa, saya mengiyakan pertanyaan polisi,” kata Very kepada pamannya.
Debbie tak kuasa melihat kondisi itu. Dirinya meminta keponakannya dibebaskan, tapi polisi melarang. Lantas dia hanya diminta menandatangani secarik kertas bertuliskan “perwakilan keluarga”.
Baca Juga:PSG Tundukkan Barcelona Lagi! Luis Enrique Puji Semangat Juang Anak AsuhnyaLiverpool Krisis Jelang Duel Kontra Chelsea, Alisson dan Ekitike Dipastikan Absen
Sejak itu keluarga terus berupaya mencari keadilan. Surat permohonan pembebasan sudah disampaikan, tapi tak pernah ada jawaban selain informasi bahwa masih proses penyidikan. Polisi bahkan menyebut Very sudah mengaku terlibat dengan barang bukti berupa dua batu.
Iyen menolak keras tuduhan itu. Baginya, anaknya hanya pemuda sederhana yang bekerja mengantar air galon di sekitar rumah. Sesekali membantu menjaga lahan parkir pamannya. Bukan demonstran, bukan perusuh.
Kini keluarga menggandeng Tim Advokasi Bandung Melawan. Menurut salah satu bagian dari tim advokasi, Deti Sopandi, kasus Very hanyalah satu dari sekian dugaan salah tangkap dan penyiksaan dalam aksi demonstrasi di Kota Bandung.
Laporan pun sudah disampaikan ke Ombudsman, Komnas HAM, Komnas Perempuan, hingga LPSK. Keluarga menunggu kabar, berharap pintu kebebasan segera terbuka untuk Very.
“Karena Very tidak melakukan tindakan yang dituduhkan pihak kepolisian. Dia korban salah tangkap dan mengalami penyiksaan,” pungkasnya.
