“Gunakan sendok kayu atau plastik. Itu lebih baik untuk menjaga khasiat madu,” pesannya.
Meski permintaan madu hitam cukup tinggi, Koswara menegaskan bahwa budidaya madu bukan semata soal bisnis. Baginya, ini adalah bentuk penghormatan kepada alam.
“Lebah tidak akan bisa hidup tanpa bunga, dan bunga tidak akan berkembang tanpa lebah. Itu semua saling terkait,” ucapnya lirih.
Baca Juga:Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan Arab Saudi di Bidang Energi Terbarukan dan Pendidikan Tantangan Eksplorasi Masih Bayangi Meski Investasi Hulu Migas Capai 8,9 Miliar Dolar AS
Ia meyakini, keberlangsungan usaha madu sangat bergantung pada kelestarian lingkungan. Jika hutan gundul dan bunga menghilang, maka lebah pun tak akan mampu bertahan. Karena itu, menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga kesehatan manusia.
Keberadaan pegiat seperti Koswara menjadi oase di tengah gaya hidup modern yang kerap melupakan kearifan lokal. Di saat banyak orang sibuk dengan suplemen instan, madu hitam hadir sebagai pengingat bahwa solusi kesehatan sejatinya telah lama tersedia di sekitar kita.
Koswara percaya, setiap tetes madu hitam adalah hasil kerja sama harmonis antara lebah, bunga, dan manusia. Cairan pekat itu bukan hanya obat bagi tubuh, tetapi juga simbol keseimbangan ekosistem.
“Madu itu hadiah dari alam. Kalau kita menjaganya, ia akan memberi kita kesehatan dan kehidupan,” pungkas Koswara. (Wit)
