Dari Subuh hingga Siang, Begini Proses Dapur SPPG Pemasok 3.000 Porsi Makan Gratis

Dari Subuh hingga Siang, Begini Proses Dapur SPPG Pemasok 3.000 Porsi Makan Gratis
Proses Produksi Masak MBG di dapur SPPG Citeureup 2 Kota Cimahi (mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meluas hingga puluhan kota dan kabupaten di 17 provinsi kini menimbulkan kegelisahan baru di kalangan masyarakat.

Program yang sejak awal digadang-gadang sebagai solusi gizi anak sekolah justru menimbulkan kontroversi dan tanda tanya besar, seberapa aman rantai penyediaan makanan ini, mulai dari dapur pengolahan hingga tersaji di piring siswa.

Kekhawatiran itu terasa nyata di Cimahi. Di salah satu penyedia, Sentra Penyediaan Pangan dan Gizi (SPPG) Citeureup 2, prosedur keamanan pangan kini menjadi sorotan utama.

Baca Juga:Korban Keracunan MBG di Cipongkor Tembus 301 Orang! Pemkab Pertimbangkan Status KLBAlih-alih Sehat Malah Bikin Cemas! Siswa di Cimahi Ngeluh Soal Kualitas MBG, Orang Tua Takut Keracunan

Kepala SPPG Citeureup 2, Ilham Ramadhan, menjelaskan secara rinci tata kelola penyediaan makanan yang mereka lakukan, mulai dari pemesanan bahan baku, proses persiapan, hingga distribusi.

“Dari awal pemesanan, bahan baku kami ambil melalui koperasi yayasan. Setiap bahan yang datang ke dapur selalu melewati proses quality control oleh ahli gizi. Jika tidak lolos, otomatis tidak diolah. Kami tidak bisa main-main, karena risikonya sangat besar untuk anak-anak,” tegas Ilham saat ditemui Jabar Ekspres di SMKN 3 Cimahi, Selasa (23/9/2025).

Menurut Ilham, proses persiapan dimulai sejak pukul 17.00 sore, melibatkan pembersihan buah-buahan, sayuran, hingga protein hewani dan nabati.

Proses pengolahan makanan dimulai pukul 22.00 malam, diawali dengan briefing terkait menu. Setelah itu, tim kembali melakukan pengecekan kualitas bahan baku.

Ilham menegaskan, jika ditemukan bahan yang tidak layak, langkah antisipasi dilakukan dengan menunda atau mengganti bahan tersebut.

“Tidak semua bahan bisa langsung diolah. Kalau misalnya sayur terlihat cepat busuk atau protein hewani ada perubahan tekstur, itu langsung ditahan. Lebih baik kami menunda daripada dipaksakan berisiko keracunan,” tambahnya.

Ilham menuturkan, setelah bahan lolos pemeriksaan, tim pemorsian mulai bekerja pukul 02.00 dini hari hingga 10.00 pagi. Proses ini penting untuk menghindari makanan cepat basi mengingat jumlah produksi yang mencapai lebih dari 3.034 porsi per hari.

Baca Juga:Korban Keracunan MBG Capai 301 Orang, Bupati Bandung Barat Jamin Pengobatan Ditanggung PemkabJumlah Korban Keracunan Ayam MBG di Cipongkor Terus Bertambah, Capai 63 Siswa

“Kami juga melakukan uji organoleptik, uji sampel, hingga pengecekan laboratorium internal. Semua ini dilakukan oleh ahli gizi yang sudah sarjana gizi. Setiap porsi yang keluar wajib mendapat verifikasi kelayakan konsumsi,” jelasnya.

0 Komentar