Mitigasi Lebih Penting dari Teknologi, BRIN Ingatkan Risiko Gempa Sesar Lembang

Mitigasi Lebih Penting dari Teknologi, BRIN Ingatkan Risiko Gempa Sesar Lembang
Peneliti BRIN meninjau garis patahan Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Peneliti BRIN Mudrik Rahmawan Daryono menegaskan kesiapsiagaan masyarakat lebih penting daripada mengandalkan Early Warning System (EWS) dalam menghadapi ancaman gempa Sesar Lembang.

Menurutnya, faktor kedekatan wilayah Bandung Raya dengan garis Sesar Lembang membuat waktu jeda peringatan dini yang diberikan oleh EWS menjadi sangat terbatas. Apalagi, getaran gempa diperkirakan akan merambat lebih cepat dibandingkan dengan proses peringatan yang dihasilkan oleh sensor pendeteksi.

“Jeda waktu yang diselamatkan kan sangat kecil, hanya beberapa detik. Bandung itu sangat dekat dengan sumber Sesar Lembang. Jadi secara teori, lebih baik kesiapsiagaan kapasitas dari masyarakat yang ditingkatkan,” kata Mudrik saat dikonfirmasi, Senin (25/8/2025).

Baca Juga:Ancaman Sesar Lembang Menguat, Masyarakat Bandung Merespons dengan Beragam SikapAncaman Aktivitas Sesar Lembang, Cimahi Perkuat Antisipasi Bencana

Sesar Lembang sendiri, membentang sepanjang 29 kilometer dari arah Padalarang hingga Cilengkrang. Di sepanjang jalur patahan aktif tersebut, terdapat banyak pemukiman warga yang berdiri tepat di atas atau berdekatan dengan garis sesar. Kondisi ini membuat risiko bencana semakin tinggi jika sewaktu-waktu sesar kembali bergerak.

Mudrik menegaskan, meskipun teknologi EWS penting untuk memantau aktivitas kegempaan, namun kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi kunci utama.

“Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga peningkatan kualitas bangunan dinilai lebih efektif dalam menekan dampak buruk gempa bumi,” katanya.

Meski begitu, Mudrik mengapresiasi langkah Pemerintah Daerah (Pemda) di wilayah Bandung Raya yang dinilai semakin sadar akan potensi ancaman Sesar Lembang. Menurutnya, upaya sosialisasi dan edukasi mitigasi yang telah dilakukan oleh Pemda patut diapresiasi.

“Sejauh ini Pemda sudah bisa menerima fakta ini, itu yang nomor satu. Kedua, merubah, memperbaiki, dan mempersiapkan. Kewaspadaan tidak bisa dengan cepat, apalagi untuk merubah bangunan yang sudah ada. Tapi kesiapsiagaan, kapasitas penduduknya luar biasa, sudah disosialisasikan. Itu hal yang positif dan harus diapresiasi,” ujarnya.

Hingga saat ini diketahui, Pemerintah Kabupaten di Bandung Raya, seperti Bandung Barat, Kota Cimahi, maupun Kota Bandung belum memiliki perangkat Early Warning System (EWS) secara mandiri.

“Peralatan yang ada saat ini baru dimiliki oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta BRIN,” tambahnya.

0 Komentar