Yang disayangkan adalah momen ini sebenarnya merupakan peluang emas. Dengan anggaran yang tersedia, seharusnya tim produksi dapat membangun kepercayaan publik terhadap kualitas animasi lokal. Bahkan, peluang ini bisa saja membuka jalan bagi lahirnya proyek-proyek besar lain di masa depan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: publik menjadi skeptis, bahkan sinis, terhadap proyek nasional semacam ini.
Permasalahan ini tidak hanya soal satu film saja, melainkan gambaran kebiasaan kita yang sering mengerjakan sesuatu secara tergesa-gesa demi mengejar momentum, bukan demi mengejar kualitas. Akibatnya, hasil yang dicapai hanya sebatas “selesai”, bukan “berkesan”. Apalagi film ini tayang di bioskop, yang secara ideal harus menjaga kualitas setara atau lebih baik dari film-film pendahulunya.
Padahal, sebelumnya sudah ada beberapa film animasi Indonesia yang berhasil membangun standar kualitas tinggi untuk tayang di layar lebar. Sayangnya, kualitas tersebut bisa “terbanting” hanya karena hadirnya satu film yang terkesan dibuat sekadar untuk memenuhi momen seremonial.
Baca Juga:Pesan di Balik Bendera One Piece di Indonesia Jelang Perayaan HUT RI ke-80Bocoran Lengkap Infinix Hot 60 Pro Plus, Usung Desain Super Tipis dan Layar AMOLED 144 Hz
Jika melihat dari segi anggaran, semestinya dana sebesar itu, bila dikelola oleh pihak yang tepat, bisa menghasilkan karya yang jauh lebih maksimal. Bahkan, animasi-animasi yang hanya tayang di YouTube pun banyak yang memiliki kualitas sangat baik. Rasanya ironis jika film yang tayang di bioskop, membawa simbol nasionalisme, justru memiliki hasil dan waktu pengerjaan yang minim.
Proses pengerjaan film ini mencerminkan kebiasaan buruk yang sering terjadi di negara kita, mengerjakan sesuatu mepet tenggat waktu, lebih fokus pada seremoni daripada kualitas berkelanjutan. Ditambah lagi, respons produser terhadap kritik warganet yang disampaikan dengan sindiran justru memperkuat sentimen negatif publik terhadap film ini.
Kami pribadi tidak keberatan dengan penggunaan label “produk lokal” atau “karya anak bangsa”, selama memang bertujuan menunjukkan bahwa karya tersebut benar-benar hasil kreativitas putra-putri negeri. Namun yang menjadi masalah adalah ketika label tersebut digunakan semata sebagai alat pemasaran, tanpa diimbangi fokus pada kualitas. Jika terus begitu, dikhawatirkan masyarakat akan menjadi skeptis terhadap karya anak bangsa secara umum.
