Terlebih, dengan anggaran yang cukup fantastis, muncul tanda tanya terkait kesesuaian antara sumber daya yang digunakan dan hasil akhirnya. Jika film ini mengangkat simbol nasionalisme dan memiliki dana yang besar, mengapa tidak mempekerjakan animator yang setidaknya mampu memberikan hasil yang lebih serius dan profesional? Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan disampaikan secara jujur sebagai refleksi yang mungkin mewakili pendapat banyak orang.
Bahkan, kami menemukan ada pihak yang mencoba membuat ulang cuplikan film ini menggunakan teknologi AI, dan hasilnya justru terlihat lebih baik. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa bisa kalah dari hasil buatan AI? Karena kualitasnya yang kurang memuaskan, wajar jika film ini mendapat banyak kritik dari publik, yang cenderung tidak memandang proses jika hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Mungkin produser film ini lebih mengutamakan pesan yang ingin disampaikan daripada sekadar estetika visual. Namun, menurut kami, meski sebuah film dinilai dari isi dan alurnya, visual tetap memiliki peran penting dalam mempermudah penyampaian pesan.
Baca Juga:Pesan di Balik Bendera One Piece di Indonesia Jelang Perayaan HUT RI ke-80Bocoran Lengkap Infinix Hot 60 Pro Plus, Usung Desain Super Tipis dan Layar AMOLED 144 Hz
Selain itu, durasi pengerjaan yang hanya sekitar satu hingga dua bulan memberi kesan kurangnya persiapan. Jika film ini memang mengangkat tema yang baik, apalagi untuk penayangan di bioskop, semestinya sudah ada perencanaan matang sejak jauh-jauh hari. Dengan pengerjaan yang terburu-buru seperti ini, kesannya film hanya dibuat untuk mengejar momentum peringatan 17 Agustus, ketimbang memastikan kualitas teknis dan narasinya.
Masalahnya, ketika kita berbicara tentang karya yang ditampilkan di panggung nasional, terlebih membawa nama “Merah Putih”, maka otomatis karya tersebut akan menjadi sorotan publik. Jika standar kualitas tidak terpenuhi, sebaik apa pun pesan yang ingin disampaikan, akan sulit bagi penonton untuk benar-benar fokus pada maknanya.
3. Hasil Mental Tergesa-Gesa
Secara jujur, kesan pertama yang muncul dari film ini adalah visualnya. Ibarat seseorang yang hendak menyampaikan pidato dengan isi yang sangat penting, namun mikrofon rusak atau suaranya sumbang, pesan yang dibawa tidak akan sampai secara maksimal. Hal yang sama berlaku untuk film: visual bukan sekadar pemanis, melainkan bagian dari bahasa penyampaian. Jika “bahasa” tersebut patah-patah, maka makna yang hendak disampaikan pun bisa terpotong.
