Optimalisasi Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Pembuangan Sampah di Aliran Sungai Kota Cimahi

Optimalisasi Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Pembuangan Sampah di Aliran Sungai Kota Cimahi
Tim Kecebong DPKP saat Membersihkan Sungai.
0 Komentar

“Karena kan sebagian warga Cimahi kadang-kadang beranggapan bahwa masalah sampah itu urusan pemerintah. Padahal yang menciptakan dan menghasilkan sampah kita-kita sendiri. Maka harusnya dan sudah sepantasnya semua kembali ke kita juga untuk mengelola sampah masing-masing,” ungkapnya.

Dalam upaya sinergis antarsektor, Pemerintah Kota Cimahi melalui kolaborasi antara DLH dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP), membentuk satuan tugas khusus bernama Tim Kecebong.

Tim ini bertugas melakukan intervensi fisik berupa pembersihan sungai dari timbunan sampah dan sedimentasi.

Baca Juga:Fakta Baru dalam Sindikat Perdagangan Jaringan Internasional ke Singapura, Begini Kata Polda Jabar!Sepasang Suami Istri Ditangkap Polisi atas Aksi Pencurian, Modus Pikat Korban Ngamar Hotel di Cisaga Ciamis

“Kebetulan kalau di Cimahi itu sungai kita keroyokan. Ada di DPKP, ada di DLH juga sebagian kewenangannya. DPKP mungkin lebih ke fisiknya, mereka sampai menyiapkan tim khusus, Tim Kecebong, untuk melakukan pembersihan,” terang Ario.

Sementara itu, DLH lebih mengarahkan fungsinya pada aspek pengawasan dan penegakan hukum melalui patroli sungai, investigasi lapangan, serta pemrosesan laporan masyarakat.

Koordinasi lintas perangkat wilayah juga menjadi kunci dalam penerjunan Tim Kecebong berdasarkan kebutuhan dan temuan di lapangan.

“Kalau DLH juga kita ada tim pengawasan, kita punya patroli sungai, lebih kepada pengawasan terhadap limbah dan juga sampah,” jelasnya.

“Tim Kecebong itu istilahnya by case ya. Kalau ada pengaduan dari aparat kewilayahan atau warga, kita koordinasi dengan DPKP. Nanti DPKP juga asesmen dulu, baru mereka menurunkan Tim Kecebong-nya,” imbuhnya.

Meski patroli dilakukan secara berkala, keterbatasan sumber daya manusia tetap menjadi tantangan besar. Dengan keberadaan lima aliran sungai utama di Kota Cimahi, pelaksanaan pengawasan simultan di seluruh titik dinilai belum sepenuhnya optimal.

“Kalau surveillance setiap hari. Tapi kan mata, telinga, tangan kita terbatas. Dari lima aliran sungai yang ada di Cimahi, kan nggak mungkin kita awasi bersamaan terus menerus,” ujarnya.

Baca Juga:SDM Indonesia Harus Siap Seiring Dibukanya Pasar Internasional, Menaker: Jangan hanya Jadi Konsumen!Indonesia dan Singapura Perkuat Kerja Sama Perdagangan, Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Global

Namun demikian, terdapat tren positif berupa peningkatan kepedulian warga terhadap kelestarian sungai. DLH mencatat mulai bermunculannya laporan dari masyarakat serta inisiatif pembentukan komunitas relawan lingkungan di sejumlah wilayah kelurahan.

“Alhamdulillah masyarakat juga sudah sadar. Laporan juga sudah masuk ke kita banyak. Yang menarik juga, di beberapa wilayah kelurahan juga sudah terbentuk relawan yang peduli terhadap sungai,” ungkap Ario.

0 Komentar