SATU bendera berwarna hitam berkibar di lantai dua rumah Arip Apandi (29) di Cibiru, Kota Bandung. Di tengah bendera itu tercetak tengkorak putih dengan tiga goresan merah pada mata kirinya. Lambang itu dikenal sebagai simbol kelompok bajak laut Akagami dalam serial anime dan manga One Piece.
Muhamad Nizar, Jabar Ekspres
Arip mengibarkannya dua hari yang lalu. Dirinya membeli bendera itu secara custom seharga Rp135 ribu. Bukan sekadar ikut-ikutan, dia juga memang ingin turut merespon sikap pemerintah yang lakukan pelarangan mengibarkan bendera semacam itu.
Dia memilih lambang Akagami karena menyukai karakter Shanks. “Keren. Lebih dewasa. Kemarin-kemarin sempat nyari, akhirnya saya pesan,” kata Arip saat ditemui Jabar Ekspres, Selasa (5/8).
Baca Juga:Dukung Penuh Perbaikan Jalan, Bupati Bogor Apresiasi Aksi Cepat DPUPRPerkuat Kelembagaan DPRD, ADPSI Mantapkan Struktur dan Rencana Kerja 2025–2029
Pengibaran bendera Jolly Roger seperti ini menjadi perbincangan nasional setelah sejumlah unggahan viral di media sosial. Sejumlah pejabat pemerintah memberi pernyataan keras. Sebagian menyebut pengibaran itu bisa dikaitkan dengan upaya memecah belah bangsa. Arip tidak sepakat.
“Kalau soal pelarangan dan ancaman pidana itu asbun. Itu tidak berdasar. Kalau melihat definisi makar kan ada upaya pembunuhan. Mana yang melarang? Dalam arti, jangan mengibarkan bendera semacam ini,” tegasnya.
Dia menyebut pengibaran bendera lambang bajak laut sudah lama dilakukan oleh penggemar anime, termasuk oleh sopir truk. “Saya lihat di internet, pengibaran bendera sudah dilakukan beberapa bulan lalu. Udah banyak padahal. Kenapa ramai sekarang?” heran Arip.
Menurutnya, dia mengibarkan bendera itu karena menyukai One Piece dan memaknai simbol Jolly Roger sebagai lambang kebebasan. Hal ini relevan dengan keadaan Indonesia yang dinilai masih belum merasakan kebebasan.
“Kalau saya lebih soal hari merdeka, kebebasan. Dan simbol Jolly Roger itu soal kebebasan. Bukan soal perlawanan saja,” tuturnya.
Dia menyebut narasi yang menyamakan Jolly Roger dengan tindakan makar adalah keliru. Apabila Jolly Roger itu dimaknai simbol perlawanan, menurutnya amat salah. Padahal simbol perlawanan bajak laut itu di ceritanya mencari pembebasan.
“Kalau disebut perlawanan, ya karena pemerintah di cerita itu suka menghalang-halangi,” ujarnya.
