“Tak hanya menerjemahkan, bahkan beliau dapat menulis dan mengedukasi generasi masa kini yang ingin belajar tentang aksara Sunda kuno,” ucapnya.
Disbudparpora sendiri pernah menyelenggarakan pembelajaran aksara Sunda kuno sebagai salah satu langkah meregenerasi ahli dan pelestari naskah tradisional tersebut.
“Tahun ini, kami bekerja sama dengan DKKC Kota Cimahi bakal mensosialisasikan kembali aksara Sunda kuno kepada anak-anak remaja,” tambah Achmad.
Baca Juga:Kapolda Jabar Tegaskan Larangan Keras Terhadap Aktivitas Geng Motor di Wilayah Hukum Polda JabarKapolda Jabar Tegaskan Pemberantasan Premanisme di Seluruh Wilayah Hukum Polda Jabar
Upaya pelestarian tersebut juga dilakukan dengan menerapkan penggunaan aksara Sunda di ruang-ruang publik, seperti penulisan di area EWIC oleh Abah Yudistira, hingga rencana penamaan jalan-jalan kota dengan aksara Sunda kuno.
Namun, upaya ini menghadapi tantangan besar, minimnya minat dari kalangan remaja.
“Agar tetap lestari, kita mesti memiliki tempat strategis untuk memberikan pembelajaran, termasuk menjadikannya sebagai ekstrakurikuler di sekolah,” ungkapnya.
Untuk itu, Disbudparpora akan melibatkan Dinas Pendidikan agar program pelestarian ini bisa berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Mengingat tulisan aksara Sunda kuno memiliki perbedaan di setiap wilayah, oleh sebab itu mesti ada penyeragaman tulisan,” pungkasnya. (Mong)
Reporter: Firman Satria
